Jumat, 27 Februari 2015

Pembelahan Sel Tumbuhan


Tugas Kelompok I
                                                                   MAKALAH
PEMBELAHAN SEL ATAU INTI

Di Susun Oleh
Hendra Jaya Saputra, NIM: 1301140327
Isnani Haryati, NIM: 1301140331
Mahmudah, NIM: 1301140333
Rizalul Hadi,  NIM: 1301140329
Siti Nuraini, NIM: 1101140276



Dibuat Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah: ANATOMI TUMBUHAN
Dosen Pengampuh: Nanik Lestariningsih, M.Pd



PROGRAM STUDI BIOLOGI JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
2015 M / 1437 H






BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Sebagaimana diketahui, di dalam inti sel terdapat benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin ini dapat menyerap zat pewarna lebih banyak sehingga bila diamati dengan mikroskop tampak lebih jelas. Kaetika sel akan membelah diri, benang-benang kromatin ini menebal dan memendek, yang kemudian disebut kromosom. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat yang di dalamnya terdapat gen.
Pada waktu sel sedang membelah dirri, terjadi proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel. Oleh karena pembelahan terjadi melalui fase-fase itulah maka disebut sebagai pembelahan sel secara tidak langsung. Pada dasarnya, pembelahan sel secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis.
Setiap sifat pada makhluk hidup dikendalikan oleh faktor keturunan yang disebut gen. gen terdapat dalam lokus tertentu di dalam kromosom, sedangkan kromosom terdapat di dalam nukleus (inti sel). Kromosom yang berpasang-pasangan disebut kromosom homolog, sedangkan pasangan gen disebut alel. Kromosom mulai tampak sesaat ketika sel akan membelah dan selama proses pembelahan.

B.  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana terjadinya proses pembelahan sel?
2.      Apa saja jenis-jenis dari pembelahan sel?
3.      Apa saja penyimpangan-penyimpangan dalam pembelahan sel pada tumbuhan?


C.  TujuanPenulisan

1.    Agar Mahasiswa mengetahui  terjadinya proses pembelahan sel.
2.    Agar Mahasiswa mengetahui  macam-macam dari pembelahan sel.
3.    Agar Mahasiswa mengetahui penyimpangan-penyimpangan dalam pembelahan sel pada tumbuhan.

D.  Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data dalam menyusun makalah ini yaitu menggunakan penelusuran pustaka (Library Research).





BAB II

PEMBAHASAN


A.  Terjadinya Pembelahan pada Sel

Dalam pertumbuhan yang umum pada tumbuh-tumbuhan, alat-alat tumbuh-tumbuhan akan menjadi bertambah besar, bertambah panjang serta bercabang-cabang. Terjadinya hal demikian karena terdapatnya perbanyakan dan pertumbuhan dari sel-sel yang menyusun tumbuhan tersebut. Perbanyakan sel-sel dapat terjadi karena terjadinya pembelahan pada sel-sel.
Umumnya pada tumbuhan terdapat zigot yaitu sebagai hasil dari peleburan antara dua buah sel kelamin yang berlainan, yang selanjutnya dari zigot ini mulai berlangsungnya pembelahan-pembelahan sel, misalnya dari sel yang satu dapat berbelah dua, dari dua terbelah lagi menjadi empat, selanjutnya menjadi delapan dan demikian seterusnya, hingga pada akhirnya sel-sel itu menjadi berates-ratus, ribuan dan jutaan sel yang dapat membangun suatu individu tumbuhan dengan baik.
Proses pembelahan sel ini dimulai dengan pembelahan intinya yang selanjutnya terjadi pembelahan plasma atau pembelahan sel. Dalam pembelahan-pembelahan sel ini terdapat pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.[1]

B.  Jenis-Jenis Pembelahan Sel Pada Tumbuhan

1.      Pembelahan secara amitosis

Pembelahan sel secara amitosis adalah pembelahan secara langsung atau istilah lainnya fragmentation. Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Dalam pembelahan cara ini terdapat gejala-gejala bahwa inti sel telah mengalami kemunduran, sehingga inti sel


mulai terbelah, yang dalam pembelahan ini dapat menjadi dua bagian atau lebih. Masing-masing bagian pembelahan ini dapat berwujud bagian yang sama besar ataupun tidak sama besar, yang dalam hal ini tidak ada kepastian apakah masing-masing akan membawa sifat-sifat keturunan yang sama atau tidak.[2]
Pembelahan sel secara amitosis atau langsung, disebut demikian karena terjadinya pembelahan itu tidak mengalami tahap-tahap perubahan terlebih dahulu, melainkan langsung saja membelah. Pembelahan sel demikianbiasanya terdapat pada Phacophyccae atau ganggang coklat, Characeae atau ganggang chara, serta pada sel-sel tumbuhan dari family Liliaceae. Cara amitosis pada tumbuhan menunjukkan bahwa sel atau inti masih berada dalam tingkat kemunduran.[3]

2.      Pembelahan secara mitosis (Homoiotypic Division)

Pembelahan sel secara mitosis adalah pembelahan secara tidak langsung, atau dengan istilah lain cykenesis. Pembelahan mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi apabila sel anak mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom sel induknya. Pembelahan sel secara mitosis disebut juga dengan pembelahan secara tidak langsung. Mitosis hanya terjadi pada sel eukariotik dan pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh). Pembelahan mitosis terdiri atas pembelahan inti dan pembelahan sitoplasma. Disebut sebagai pembelahan sel secara tidak langsung karena sebelum terjadi pembelahan inti sel, telah didahului dengan terjadinya beberapa perubahan yang dapat diperhatikan sebagai perubahan yang sangat penting, yaitu terbentuknya kromosom dalam inti sel selama berlangsungnya proses pembelahan tersebut. Kromosom-kromosom ini dapat membagi inti sel menjadi dua bagian yang sama besar. Dengan demikian maka bagian-bagian  (masing-masing inti anak) akan memiliki sifat-sifat induknya yang sama.
Pada sel-sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap-tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel-sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Adapun tahapan-tahapannya yakni sebagai berikut:[4]
a.       Interfase
Adalah tahapan sebelum terjadinya inti sel. Dalam tahapan ini tampaknya seolah-olah tidak terjadi apa-apa sehingga disebut sebagai “tahapan istirahat”. Namun istirahat disini bukan berarti tidak melakukan aktivitas apapun. Yang dimaksud dengan istirahat disini adalah sel berhenti membelah, tetapi masih tetap melakukan aktivitas non pembelahan. Inti sel sedang aktifnya mengadakan metabolism (pernapasan, dan lain-lain), sehingga dapat dikatakan juga sebagai tahap persiapan menjelang profase awal.
b.      Profase awal
Sebagai pemula dari proses ini, inti sel mulai dengan pembelahan pendahuluan. Jika dilihat dengan mikroskop electron, tampak dalam  inti sel terjadi pengerutan yang disebabkan terjadinya butiran-butiran halus ini akan berubah menjadi benang halus yang bentuknya tidak menentu. Dalam waktu yang tidak lama, mulai tampak bahwa benang-benang halus tersebut makin lama mulai menebal dan terbelah-belah seperti spiral yang terdiri dari dua kromatid. Tampak seperti benang-benang yang rangkap.
c.       Profase akhir
Dalam tahapan ini benang-benang tersebut akan terputus-putus, berubah menjadi batang-batang halus yang disebut kromosom. Selanjutnya karena pengaruh dehidrasi atau kekurangan air di dalam sel serta pengendapan nucleic acid (asam nukleat) yang terus bertambah, maka benang-benang kromosm akan memendek.
Dapat dikatakan bahwaa pengendapan asam nukleat akan menyebabkan zat warna lebih banyak, dan terjadinya pemendekan dan penebalan kromosom karena kromatid mengerut menjadi dua spiral yang halus.Terjadinya pengerutan spiral-spiral yang halus dalam suatu matriks yang mengelilinginya menyebabkan tak tampaknya dengan jelas pengerutan-pengerutan tersebut.
Kromosom selanjutnya akan berkumpul di tengah-tengah nucleus (inti sel) dan di dalam plasma sel di luar intinya akan terbentuk benda-benda seperti jala, pada dua tempat yang berlawanan seperti kutub, yaitu kutub atas dan kutub bawah yang dihubungkan oleh benang-benang plasma yang keluar dari masing-masing kutub tersebut. Bersamaan dengan terbentuknya kromosom tersebut, membrane inti beserta butir halusnya (nucleolus) akan menghilang, sehingga kromosom tersebut tampak berkumpul di tengah-tengah sel di dalam sitoplasma. Kemungkinan benang-benang plasma yang keluar dari masing-masing kutub itu hanya sebagai pendorong kromosom, hal ini karena benang-benang plasma itu hanya sampai pada kromosom-kromosom tersebut. Jadi benang-benang plasma (framoplast) akan mendesak kromosom ke tengah-tengah.
Apabila keadaan fiksasi sekitar kromosom itu baik, pada akhir profase ini seringkali kromosom dapat dihitung jumlahnya dan pada tiap kromosom dapat terlihat adanya sentromer (tempat pada kromosom dimana bagian-bagiannya belum jelas menunjukkan rangkap dua). Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa semua sentromer letaknya berdekatan antara satu ddengan lainnya yaitu pada sisi inti selnya.[5]
d.      Prometafase (metaphase awal)
Metafase awal merupakan tahapan dalam proses pembelahan sel, dimana terjadi perubahan besar diantaranya dinding inti dan butir halus nucleolus menjadi hilang sama sekali, berganti dengan terbentuknya gelendong inti seperti halnya kumparan dengan kutub atas dan kutub bawah tadi. Dalam kejadian ini tampak dengan jelas hubungan antara benang-benang fragmoplas (yang menghubungkan kutub-kutub) dengan sentromer dari kromosom. Selanjutnya dalam gelendong inti terjadi gerakan-gerakan kromosom yang seolah-olah diatur oleh sentromer, dengan gerakan-gerakan bagian-bagian lain dari kromosom yang berlangsung secara pasif.[6]
e.       Metaphase Akhir
Dalam tahapan ini terjadi penempatan kromosom pada bidang ekuatorial atau pada bidang tengah, yaitu tampak seperti papan sehingga disebut papan metaphase atau papan inti. Dalam perwujudan bentuk yang demikian sentromer-sentromer akan berada di tengah-tengah (ekuator) sedangkan benang-benang kromsom yang panjang terletak jauh di luar ekuator. Dalam keadaan demikian sentromer-sentromer masih tetap belum membagi serta menghubungkan kedua kromatid. Bagian sentromer ini menghadap ke kutub dapat dikatakan lebih dekat jika dibanding dengan bagian-bagian kromosom lainnya yang telah saling berbelit atau berkelokan.
Apabila keadaan diatas diperhatikan dengan menggunakan mikroskop , akan tampak pada bidang ekuator suatu wujud bagaikan bintang, sehingga tahapan ini sering juga disebut tahapan bintang (stadium aster).[7]
f.       Anafase awal
Pada tahapan ini ternyata bahwa tiap-tiap kromatid berada pada bidang ekuator. Mulai tertarik ke kutub-kutubnya seakan-akan telah menunjukkan terjadinya pemisahan-pemisahan, yang berlangsung dari kromatid-kromatid tadi pada sentromer-sentromer yang kenyataannya sekarang membelah.
Dalam kejadian ini tampak seakan-akan sentromer-sentromer itulah yang mengatur gerakan-gerakannya, seakan-akan telah terjadi tarikan-tarikan ke kutub (atas dan bawah) oleh benang-benang fragmoplas yang melekat pada sentromer, sedangkan benang-benang dari kromosom mengikutinya secara pasif.
Benang-benang yang telah dijelaskan diatas yaitu benang-benang fragmoplas, biasanya disebut benang-benang tarik dan benang-benang yang berjalan dari kutub ke kutub, biasanya disebut benang-benang penyokong atau benang peluncur.Baik benang tarik maupun benang penyokong terdiri dari satu berkas halus dan lazimnya disebut fibril.[8]
g.      Anaphase akhir
Pada tahapan ini pembelahan telah berlangsung dengan tegas, dimana kedua kromatid dari masing-masing kromosom tampak dengan jelas saling menjauhi bidang ekuator, dan berkumpul pada kutub-kutubnya.
Dengan menggunakan mikroskop tampak dengan jelas bahwa di tengah-tengah sel seakan-akan telah terbentuk dua buah bintang. Sehubungan dengan bentuk dua bintang yang tampak maka tahapan ini sering juga disebut tahapan stadium diaster.
h.      Telofase awal
Pada tahapan ini kromatid atau belahan-belahan kromosom telah berada pada kutubnya masing-masing dari gelendongan inti. Dan disekitar kromosom dinding-dinding baru pada intinya telah terbentuk pula, yang selanjutnya kromosom menjadi satu serta membentuk lagi benang-benang yang tidak menentu bentuknya. Demikian pula halnya dengan butir-butir halus (nucleolus) yang biasa terdapat pada inti menjadi tampak kembali dan terbentuk pada suatu penggentingan dari satu pasangan kromosom tertentu.
Adanya kadar air yang bertambah dan berkurangnya nucleoprotein menjadikan kromosom pada tahapan ini menjadi berkurang kemampuannya untuk melakukan penyerapan zat warna.
i.        Telofase akhir
Tahapan ini ditandai dengan terbentuknya dua buah inti sel baru, yang merupakan inti sel anak sebagai hasil pembelahan. Tentang terbentuknya membrane pada sel-sel baru dapat dikemukakan bahwa benang-benang fragmoplas yang ada disekitar ekuator mengalami penebalan, dan penebalan ini pada akhirnyaakan saling mendekati sehingga selanjutnya bersentuhan antara satu dengan lainnya. Dengan demikian maka antara kedua inti anak sel itu dapat terbentuk membrane sel baru, sehingga dari satu sel induk terjadi dua sel anak yang merupakan sel-sel baru dengan jumlah kromosom masing-masing sama dengan kromosom sel induk. Selanjutnya sel anak tersebut setelah melalui periode tertentu akan menjadi sel  dewasa yang siap untuk melakukan pembelahan dan demikian seterusnya.[9]
Dalam hal pembentukan membran sel yang baru sehubungan dengan berlangsungnya pembelahan sel secara mitosis dapat terjadi secara simultan (secara sekaligus atau serempak). Di samping dapat pula terjadi secara berangsur-angsur, yang disebut succedan (suksedan). Tentang pembentukan membran sel baru dalam kedua cara ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Simultan: pembentukan membran sel baru umumnya berlangsung pada sel-sel yang kecil di mana vakuola pun kecil-kecil.
b.      Suksedan: pembentukan membran sel baru umumnya berlangsung pada sel-sel yang besar di mana vakuolanya yang besar terdapat pula di dalamnya. Dalam pembelahan, inti selnya akan bergerak dari kiri ke kanan diikuti dengan terbentuknya membran sel yang baru. Pada sel-sel kambium misalnya, pembelahan inti sel berlangsung secara membujur, membran selnya berlangsung secara suksedan yang dimulai dari bagian tengah selnya. Selanjutnya dalam hal ini benang-benang fragmoplas mulai melangsungkan penebalan-penebalan baru, baik ke bagian kiri dan ke bagian kanan dari selnya.[10]
Dalam hal berlangsungnya pembelahan sel smatis dari ujung-ujung akar tumbuhan (yang akar-akarnya masih aktif, atau hidup) dapat dikatakan bahwa setiap inti sel membelah mengalami semua tahapan berlangsungnya pembelahan (siklus pembelahan) dari interfase ke interfase berikutnya. Pada preparat-preparat yang telah difiksasi serta diberi pewarnaan, walaupun keadaannya memang rumit, kita seyogianya harus dapat merekonstruksi siklus pembelahan yang telah berlangsung. Dinyatakan rumit terutama karena pada tahapan pemula dan tahapan akhir memang sulit sekali dapat difiksasi dengan baik. Akan tetapi keadaannya demikian, dengan jalan melakukan pengamatan pada pembelahan-pembelahan ini sel dan pembelahan selnya yang ada dalam jaringan-jaringan yang aktif (hidup), maka kebenaran dari rekonstruksi yang dilakukan dapat kita kaji.

3.      Pembelahan Secara Meiosis (Reduksi= “Heterotypic Divison”)

Pembelahan sel secara meiosis atau reduksi yang sering pula dinyatakan sebagai pembelahan “heterotypic divison”, berlangsung dalam bentuk sel-sel klamin. Dengan demikian sangat berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan yang melangsungkan pembiakannya secara generatif.
Mengenai sel klamin ini dapat dikemukakan bahwa sel-sel tersebut mempunyai inti yang haploid yaitu inti dengan jumlah n khromosom, sedangkan dalam zigotatau hasil peleburan dua sel kelamin ternyata khromosomnya tidak bersatu. Dengan demikian maka tentunya dalam inti zigot akan terdapat diploid yaitu 2n khromosom. Seluruh khromosom dalam satu sel klamin adalah satu genom, dengan demikian maka sel diploid merupakan dua genum dan dari dua genum ini akan terdapat dua khromosom yang memiliki keasamaan-kesamaan dalam bentuk, besar, serta jumlah gen yang ada padanya. Khromosom demikian adalah khromosom geminusatau kembar dan disebut khromosom homolog. Khromosomnya itu satu berasal dari sel kelamin jantan dan satunya lagi dari sel klamin betina.
Dalam pembentukan sel-sel kelamin berasal dari sel ini tentunya jumlah khromosomnya harus mengalami pengurangan, jelasnya dari 2n menjadi n. Sebab tanpa berlangsungnya reduksi maka bila terjadi perkawinan, jumlah khromosomnya kan menjadi berlipat ganda. Dalam garis besarnya sel cara meiosis berlangsung melalui dua tingkatan.[11]
a.      Pada Tingkat Pertama
Pada tingkat pertama ini pengurangan (reduksi)dalam jumlah khromosom memang benar-benar terjadi, dan kegiatannya berlangsung dalam 4 tahapan, sebagai berikut:
1)      Profase I: pada tahapan inikegiatan-kegiatannya dapat dibedakan atas 5 subfase, yaitu:
(a)    Leptonema, dalam sub fase ini inti sel memperlihatkan adanya benang-benang halus yang keadaannya berlekuk-lekuk, tapi masih sulit untuk menentukan apakah benang-benang halus itu tunggal atau rangkap dua.
(b)   Zygonema, permulaan terbentuknya khromosom yang homolog, pada tingkat ini dapat terlihat adanya gerakan saling mendekati dari khromosom homolog, yang selanjutnya membentuk suatu geminus. Peristiwa perkawinan khromosom tersebutdisebut sinapsis. Geminus yang dibentuknya itu bermula dari sentromer dan berlanjut pada ujung-ujungnya.
(c)    Pachynema, pada tingkatan ini dapatt dinyatakan bahwa pembentukan geminus telah sempurna, yang dalam keadaan ini tampaknyadalam inti terdapat setengah dari jumlah khromosom yang seharusnya ada.
(d)   Diplonema, khromosom yang telah membentuk geminus pada tingkatan ini melakukan pembelahan secara membujur, dengan demikian akan tampak terbentuknya 4 buah khromatid dari masing-masing geminus. Keempatnya akan berpasangan kemudian tiap pasangan akan saling menjauhkan diri, walaupun tampaknya demikian, terdapat suatu tempat pada geminus yang memperlihatkan tetap adanya hubungan. Pada tempat yang dimaksud letak 2 khromatid yang berada di sebelah dalam persilangkan sedang 2 khromatid lagi yaitu yang letaknya di bagian paling luar berada dalam keadaan bebas. Tempat titik persilangan tersebut disebut chiasma (hiasma). (Dalam ilmu Genetika disebut: “crissing over”).
(e)    Diakenese, gulungan-gulungan bagaikan spiral tampak pada tingkatan ini, yang makin lama tampak makin rapat, disebut khromonema, khromosom-khromosom tampak bertambah tebal, letak geminus-geminusnya pada bidang ekoator terdapat di pinggir inti dan belum teratur.[12]
2)      Metafase I: pada permulaan dari tahapan ini membran nukleus dan nukleolusnya (butir-butir inti) keadaannya seperti tidak tampak lagi (menghilang) dan selanjutnya merupakan awal terbentuknya benang-benang fragmoplas. Serta geminus-geminus dengan sentromernya tampak mulai bergerak ke arah bagian-bagian kutubnya, yang selanjutnya melakukan penempatan dari pada bidang ekouatornya.
Ekoilibrium atau keadaan yang seimbang di mana geminus-geminus telah berhasil menempatkan diri secara keseluruhannya pada bidang ekuator ternyata telah tercapai pada akhir dari tahapan ini.
3)      Anafase I: pada tahapan ini tampak masing-masing bagian seperduanya dari geminus melakukan serakan ke arah kutub masing-masing yang selanjutnya berkumpul pada masing-masing kutubnya tersebut.
4)      Telofase I(interkenese): kegiatan-kegiatan selanjutnya yang berlangsung dalam tahapan ini adalah pembentukan dua buah inti sel di dalam selnya. Khromosom-khromosom yang terkandung dalam inti sel anak masing-masing adalah n, yang jumlahnya seperdua dari jumlah khromosom induk selnya. Jumlah yang demikian ini jelas telah merupakan pengurangan (reduksi) yang telah berlangsung pada jumlah khromsom yang sebenarnya. Pembelahan demikian ini disebut pembelahan reduksi.
b.      Pada Tingkat Ke Dua
1)      Metafase II: masa interkenese di atas merupakan masa istirahat. Awal matafase II berlangsung setelah masa interkenese tersebut, di mana kedua intisel anak itu mulai lagi melangsungkan kegiatan-kegiatan pembelahan inti yang mengarah pada pembelahan tingkat kedua. Pembelahan ini merupakan pembentukan sel-sel kelamin. Dalam hal ini prosesnya tidak ada perbedaan dengan pembelahan mitosis dari inti sel anak. Kecuali mengenai letak ekuatornya di mana pada metafase II ini dapat di katakan bahwa letaknya akan tegak lurus pada bidang ekuator dari pembelahan tingkat I.
2)      Anafase II: pada tahapan in tampak khromosom-khromosom inti sel anak masing-masing telah melakukan pembelahan dan masing-masing telah jelas melakukan pemisahan-pemisahan.
3)      Telofase II (tetrade): pada tahapan ini yaitu tahapan setelah selesainya pembelahan tingkat dua, selanjutnya terdapat 4 buah sel klamin yang masing-masing bersifat haploid (n khromosom) yang berasal dari sel induk yang bersifat diploid (2n khromosom). Reduksi di sini disebut pembelahan tetrade.[13]
Hasil meiosis berupa satu sel induk yang diploid (2n) menjadi 4 sel anakan yang masing – masing haploid (n), jumlah kromosom sel anak setengah dari jumlah kromosom sel induknya, pembelahan meiosis hanya terjadi pada sel-sel generative atau sel-sel gamet seperti sperma dan ovum (sel telur).[14]

C.  Penyimpangan dalam Pembelahan Sel

Tidak jarang pula pada tumbuh-tumbuhan terjadi penyimpangan dalam cara pembelahan inti sel atau dalam cara pembentukan sel-sel baru. Penyimpangan itu sering terjadi pada tumbuh-tumbuhan rendah atau pada alat-alat tertentu dari tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi.
Dalam hal penyimpangan ini yang akan dikemukakan adalah tentang pembelahan inti sel yang bebas, penonjolan sel, dan pembentukan sel bebas.[15]

1.      Pembelahan Inti Sel Bebas

Dalam hal ini kita dapat mengetahui berlangsungnya pembelahan inti sel hingga beberapa kali, yang ternyata tidak disertai dengan pembelahan selnya. Hal yang menarik dengan kejadian ini ialah inti-inti anak hasil pembelahan itu masing-masing masih memiliki sifat-sifat yang sama dengan inti induknya. Sel-sel yang demikian disebut koenosit. Tumbuh-tumbuhan rendah yang sel-selnya berupa koenosit, misalnya Cladophora  yaitu jenis ganggang hijau (Chlorophyta).
Pada sel-sel Cladophora ini memiliki inti banyak, di sekitar masing-masing intinya itu terdapat butir-butiran pyrenoid yang seimbang besarnya dengan inti, dan disekitar butiran-butiran pyrenoid itu terkumpul pula butiran-butiran tepung.
Pembelahan inti sel secara bebas ini berlangsung pula dalam organ tertentu dari tumbuhan tinggi, mislnya pada saccus embtyonalis (kandungan lembaga) golongan Spermatophyta. Dalam bakal biji inti sel primer dengan sifatnya yang diploid pada mulanya melangsungkan pembelahan secara meiosis, yang menghasilkan 4 buah inti sel anak dengan sifat yang haploid. Kehadiran 4 macah buah inti sel anak tidak dapat dipertahankan seluruhnya, ternyata yang 3 buah mati, jadi yang tumbuh terus hanya sebuah. Kemudian dari senbuah inti sel ini akan membelah lagi secara mitosis. Pembelahan ini berlangsung sampai 3 kali maka akan terbentuk 8 buah inti sel yang haploid.

2.      Penonjolan Sel

Dalam proses ini sel-sel baru terbentuk dengan cara pembentukan tunas-tunas dan sel-sel dalam bentuk penonjolan-penonjolan pada sel-sel lama. Penonjolan-penonjolan pada sel-sel lama dalam arti terbentuknya sel-sel baru. Proses pembentukan sel-sel dalam kejadian seperti ini adalah sebagai berikut:
a.       Pembentukan tonjolan-tonjolan pada sel-sel sehubungan dengan terjadinya tunas-tunas sel
b.      Setelah terjadi pembelahan pada inti, salah satu di antara inti anak inibergerak memasuki tunas-tunas sel. Gerakan ini di mungkinkan karena adanyagerakan plasma sel yang dlam hal ini inti anak mengikuti arus plasma sel tersebut ke dalam tunas-tunas sel
c.       Terbentuknya membran pemisah yang selanjutnya memungkinkan sesl-sel baru akan lepas

3.      Pembentukan Sel bebas

Dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan, terutama pada tumbuh-tumbuhan rendah, misalnya pada golongan Fungi yang termasuk dalam Ascomycete, sering pula terjadi cara-cara pembentukan sel-sel baru di dalam sebuah sel, seperti pembentukan spora-spora dalam sel ascus.
Kalau kita perhatikan pertumbuhan Cendawan Ascomycete, pada akhir pertumbuhannya akan membentang, yang dlam keadaan ini akan terbentuk sel besar, berbentuk sebagai perisai dengan sebuah inti.
Inti pada sel yang berbentuk seperti perisai itu akan melangsungkan pembelahan secara bebas dalam sel tersebut, yang ternyata dapat membelah-belah menjadi 8 inti anak. Dari salah satu ujung inti akan keluar benang-benang plasma, benang-benang plasma ini selanjutnya akan bertambah panjang yang pada akhirnya akan mengelilingi inti serta ujung-ujungnya akan bertemu, membentuk membran sel yang mengitari inti tadi. Sehingga dengan cara demikian dapat terbentuk 8 buah sel spora dalam sel besar tersebut.[16]
Sel-sel spora yang terbentuk itu disebut ascospora, sedangkan sel besar yang mengandung kedelapan ascospora disebut ascus. Plasma sel acus ini selanjutnya disebut periplasma (jelasnya: plasma sel ascus yang setelah melingkari 8 ascuspora, merendamnya pula).





BAB III

PENUTUP


A.  Kesimpulan

1.      Terjadinya Proses pembelahan sel pada tumbuhan dimulai dengan pembelahan intinya yang selanjutnya terjadi pembelahan plasma atau pembelahan sel. Dalam pembelahan-pembelahan sel ini terdapat pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.
2.      Jenis-jenis dari pembelahan sel pada tumbuhan ada 3, yaitu:
a.       Pembelahan secara amitosis
b.      Pembelahan secara mitosis, dan
c.       Pembelahan secara meiosis
3.      Penyimpangan-penyimpangan dalam pembelahan sel pada tumbuhan ada 3, yaitu:
a.       Pembelahan inti sel bebas
b.      Penonjolan sel
c.       Pembentukan sel bebas

B.  Saran

Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulismengharapkan saran dan kritik dari Ibu pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. DanDiharapkan bagi para pembaca sekalian agar bisa mencari referensi lain untuk menambah pengetahuan tentang Pembelahan sel atau inti.semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya. Aamiin.



DAFTAR PUSTAKA


Sumadi, dkk. 2007. Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sutriyan, Yayan, Pengantar Anatomi Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rinneka Cipta, 2011




[1] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 67
[2]Sumadi, dkk, Biologi Sel, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007, h. 35
[3] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 68
[4] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 68-69
[5] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 70
[6] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 71
[7]Ibid, h 71-72
[8] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 72
[9] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 73
[10] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 74
[11] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 77
[12] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 78
[13] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 79
[14]Sumadi, dkk, Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007, h. 45
[15]Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 81
[16] Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 82-84