MAKALAH
KEIMANAN DAN KEIKHLASAN
Disusun
Oleh
Isnani Haryati (1301140331)
Disusun
untuk Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Hadis Tarbawi
Dosen :
Akhmad Supriadi, S.HI., M.S.I
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
TAHUN 2015
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga makalah Hadis
Tarbawi ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para pembaca
agar lebih memahami dan mengerti khususnya tentang Keimanan dan Keikhlasan.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih sangat jauh dari kekurangan. Oleh karena itu, Penulis memohon kritik dan
saran yang membangun kepada pembaca sehingga dapat membantu memajukan serta
kemampuan dalam penyusunan makalah. Atas perhatian Penulis mengucapkan terima
kasih.
Penulis
Di antara perbendaharaan kata dalam agama ialah iman, islam, ihsan, dan hari kiamat.
Berdasarkan sebuah hadits yang terkenal, keempat istilah itu memberi umat Islam ide tentang
Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan
terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup. Iman adalah sebuah pengakuan dalam
hati, sikap percaya pada masing-masing rukun iman yang enam. Keimanan dalam
Islam itu sendiri adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya,
kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan
buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan
serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena
kemaksiatan.
Sebagai manusia yang yang hidup,serta dalam menjalani kehidupan manusia
itu sendiri tidak terlepas dari berbagai aspek yang menyelimuti dan mempengaruhi
kehidupannya,seperti adanya penyakit hati yang tumbuh dalam diri dan jiwa
seorang ummat bahkan seorang dai,kyai sekalipun .kita sebagai makhluk sosial
terkadang tanpa disadari penyakit hati seperti ini yang lebih dominan
dalam kehidupan bermasyarakat.
1. Bagaimana hubungan antara
iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat?
2. Apakah berkurangnya iman
dan Islam di sebabkan karena maksiat?
3. Apakah rasa malu sebagai
bagian dari iman?
4. Bagaimana niat atau
motivasi dalam beramal?
5. Bagaimana menjauhi riya
dan sum’ah dalam beribadah?
1. Agar mengetahui dan
memahami hubungan antara iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat.
2. Agar mengetahui dan
memahami bahwasannya iman dan Islam berkurang karena maksiat.
3. Agar mengetahui dan
memahami bahwa rasa malu adalah bagian dari iman.
4. Agar mengetahui dan
memahami cara bagaimana niat atau motivasi dalam beramal.
5. Agar mengetahui dalam
beribadah harus menjauhi riya dan sum’ah.
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah
ini adalah metode kepustakaan dan internet.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا
يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ
وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ
الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ
اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ
مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ
وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا
تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا
يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ } الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ
فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ
النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ
الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 48) : Telah menceritakan
kepada kami Musaddad berkata, Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin
Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abu Hayyan At Taimi dari Abu Zur'ah dari
Abu Hurairah berkata; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari
muncul kepada para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril 'Alaihis Salam yang
kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjawab: "Iman adalah kamu beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya,
dan kamu beriman kepada hari berbangkit". (Jibril 'Alaihis salam) berkata:
"Apakah Islam itu?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu
apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa
di bulan Ramadlan". (Jibril 'Alaihis salam) berkata: "Apakah ihsan
itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Kamu menyembah
Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia
melihatmu". (Jibril 'Alaihis
salam) berkata lagi: "Kapan
terjadinya hari kiamat?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
"Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang
bertanya. Tapi aku akan terangkan
tanda-tandanya; (yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para
penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung
selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah".
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca: "Sesungguhnya hanya
pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat" (QS. Luqman: 34). Setelah itu
Jibril 'Alaihis salam pergi, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
berkata; "hadapkan dia ke sini." Tetapi para sahabat tidak melihat
sesuatupun, maka Nabi bersabda; "Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada
manusia untuk mengajarkan agama mereka." Abu Abdullah berkata: "Semua
hal yang diterangkan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dijadikan sebagai iman.
|
JALUR SANAD
Rasulullah
Abu Hurairah
Abu Zur’ah
Abu Hayyan
At-Taimi
Ismail bin
Ibrahim
Musaddad
Bukhari
|
Hadist
diatas membahas empat masalah pokok yang saling berkaitan, yaitu iman, Islam,
ihsan, dan hari kiamat. Pernyataan Nabi Muhammad SAW. di penghujung hadist di
atas bahwa “itu adalah malaikat Jibril datang mengajarkan agama kepada
manusia” mengisyaratkan bahwa keberagamaan seseorang baru dikatakan benar
jika dibangun di atas pondasi Islam
disemangati
oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar ihsan, dan orientasi akhir segala
aktifitas adalah ukhrawi.
Seseorang
yang hanya menganut Islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan
iman. Sebaliknya, iman tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan
Islam. Selanjutnya kebermaknaan iman dan Islam akan mencapai kesempurnaan
apabila dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa
pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara iman, Islam dan ihsan dengan hari
kiamat karena hari kiamat merupakan tujuan akhir dari segala perjalanan manusia
tempat menerima ganjaran dari segala aktifitas manusia yang kepastian
kedatangannya adalah rahasia Allah.
Iman adalah pengenalan dengan penuh keyakinan, atau ilmu pasti. Sedangkan menurut Dr.
Muhammad iman adalah kepercayaan terhadap wujud zat Yang Maha mutlak yang
menjadi tujuan hidup manusia. . Pengertian
dasar dari istilah iman adalah memberi ketenangan hati, pembenaran hati. jadi
makna iman secara umum mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat
menggerakkan anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan
oleh hati. Sedangkan
pendapat para ulama tentang pengertian
iman adalah sebutan yang dipakai untuk ‘mengikrarkan dengan lisan, membenarkan
dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan.
Dengan demikian, iman saja tidaklah cukup tetapi harus
disertai berbagai amal saleh sebagai perwujudan dari keyakinan tersebut.
Sekedar kepercayaan menyangkut sesuatu, belum dapat dikatakana sebagai iman,
karena iman menghasilkan ketenangan. Disamping itu iman dapat di ibaratkan
sebagai makanan rohani. Jiwa yang kosong dari iman akan lemah dan hampa
sebagaiman jasad yang tidak diberi makan. Dengan demikian iman merupakan inti
kehidupan batin dan sekaligus menjadi penyelamat dari siksa abadi di akhirat
kelak.
Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah yang
berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan
hati dan perasaanya dengan sesuatukepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan
kepercayaan lain. akidah tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman hidup,
mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisah lagi dari diri seorang
mukmin. bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta bahkan jiwa
demi mempertahankan akidahnya.
Adapun pengertian iman secara khusus sebagaimana yang
tertera dalam hadist di atas adalah : keyakinan tentang adanya Allah SWT,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab yang diturunkan-nya, Rasul-rasul utusan-Nya,
dan yakin tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur serta
beriman kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruk.
Dalam al-Qur’an terdapat ayat yang senada dengan hadis
di atas yang mendeskripsikan tentang konsep keimanan, antara lain firman Allah
dalam Q.S al-baqarah : 285
z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/
tAÌRé& Ïmøs9Î)
`ÏB
¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä.
z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur
¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur w ä-ÌhxÿçR
ú÷üt/
7ymr&
`ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur
( y7tR#tøÿäî
$oY/u øs9Î)ur çÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ
285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan
kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan
rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara
seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka
mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa):
"Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Keenam pokok
keimanan itu yakni iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab,
iman kepada rasul, iman kepada hari kiamat dan qadha dan qadhar dikenal sebagai
arkanul iman (rukun iman).
Islam berasal dari akar kata kerja aslama secara
harfiyah berarti kepatuhan atau tindakan penyerahan diri seseorang sepenuhnya
kepada kehendak orang lain. Islam adalah keputusan menjalankan perintah Allah
dengan segala keikhlasan dan kesungguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata
islam, yakni penyerahan. Seorang muslim harus menyerahkan dirinya kepada Allah
secara total karena memang manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ
أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ
الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
(BUKHARI - 7) : Telah menceritakan kepada kami
Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu
Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan);
persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".
Berdasarkan hadis di atas, dikemukakan tentang rumusan
rukun Islam, yaitu:
Syahadat (persaksian keesaan Allah dan kerasulan
Muhammad), mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan
menunaikan ibadah haji.
Seseorang yang menyandang predikat muslim, harus patuh
kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah, hidupnya serasi dengan alam
dan seluruh makhluk, bahkan hidup serasi dengan diri sendiri. Dengan demikian,
Islam telah mengatur segala aspek
kehidupan baik yang berkenaan dengan akidah (kepercayaan), syariah (ibadah dan
muamalah), akhlak (baik kepada al-Khaliq maupun kepada makhluk).
Ihsan secara bahasa berasal dari akar kata kerja ahsana-yuhsinu,
yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk mashdarnya adalah ihsan yang
artinya kebaikan. Mengenai hal ini,
Allah SWT. Berfirman dalam Q.S an-Nahl : 90
* ¨bÎ) ©!$# ããBù't
ÉAôyèø9$$Î/
Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGÎ)ur
Ï
4n1öà)ø9$#
4sS÷Ztur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìx6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏèt öNà6¯=yès9 crã©.xs? ÇÒÉÈ
90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Menurut Ibnu Hajar, ihsan berarti berusaha
menjaga tata krama dan sopan santun dalam beramal. Ihsan merupakan salah satu
faktor utama dalam menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT.
Karena orang yang berlaku ihsan dapat dipastikan akan ikhlas dalam beramal,
sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu ibadah.
Percaya akan datangnya hari kiamat termasuk salah satu
rukun iman yang harus diyakini oleh semua orang yang beriman meskipun tidak ada
yang tahu kapan saatnya tiba. Bagi mereka yang beriman, misteri terjadinya hari
kiamat tidak akan mengurangi kadar keimanannya. Mereka justru lebih waspada dan
senantiasa meningkatkan amal kebaikan untuk bekal menghadapinya.
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيُّ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي
يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ وَسَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولَانِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي
حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ
مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
(MUSLIM - 86) : Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya
bin Abdullah bin Imran at-Tujibi telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab dia
berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, saya
mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa'id bin al-Musayyab keduanya
berkata, Abu Hurairah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia
berzina, seorang mukmin tidak disebut sebagai mukmin saat ia mencuri.
JALUR SANAD
Rasulullah
Abu Hurairah
Abu Salamah bin
Abdurrahman
Sa’id bin
al-Musayyab
Yunus
Ibnu Wahab
Harmalah bin
Yahya bin
'Abdullah bin Imran at-Tujibi
Muslim
Penjelasan dari hadis riwayat Muslim tersebut adalah bahwasannya orang
yang beriman akan merasa bahwa segala tingkah lakunya senantiasa diawasi oleh
Allah SWT. dan tidak ada suatu perbuatan yang ia lakukan luput dari pengawasan
Allah SWT. Di samping itu, ia selalu sadar bahwa segala perbuatan yang dilakukannya
harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan ia sendiri yang akan menerima
akibat dari perbuatannya, baik ataupun buruk, sekecil apapun perbuatan itu. Hal
ini sesuai dalam QS. Az-Zalzalah : 7-8
`yJsù
ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB >o§s #\øyz ¼çntt ÇÐÈ `tBur
ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB ;o§s #vx©
¼çntt
ÇÑÈ
7. Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya
pula.
Atas dasar kesadaran tersebut, maka orang benar-benar beriman senantiasa
berusaha mengerjakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan yang dilarang
oleh Allah SWT. Seorang yang beriman tidak mungkin dengan sengaja melakukan
maksiat kepada Allahh, karena ia merasa malu dan takut menghadapi azab serta
takut tidak mendapatkan ridha-Nya. Sebaliknya, seorang yang tidak beriman
kepada Allah SWT. akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban
apa-apa. Ia hidup semaunya, dan yang penting baginya adalah ia merasa senang
dan bahagia. Ia tidak memikirkan kehidupan setelah mati karena ia tidak
mempercayainya.
C. Rasa Malu Sebagai Bagian dari Iman
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ
أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ عَنْ أَبِيِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي
الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ
فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 23)
: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan
kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari
bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati
seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya
tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.
JALUR SANAD
Rasulullah
Abdullah bin Umar
Salim bin
'Abdullah
Bukhari
Rasa malu
merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah kepada manusia dan
sekaligus merupakan salah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatang.
Kadar rasa malu pada tiap-tiap orang berbeda-beda dan motif yang menyebabkan
orang malu juga sangat bervariatif. Dengan demikian, malu kadang dapat
dikategorikan sebagai sifat yang baik, dan ada kalanya dapat dikategorikan
sebagai sifat tercela. Malu termasuk dalam salah satu
ciri orang yang beriman dan simbol keberimanan seseorang. Oleh sebab itulah sehingga
Rasulullah dalam hadis di atas menjadikan rasa malu sebagai bagian dari iman.
Menurut Abu
al-Qasim perasaan malu akan timbul apabila memandang budi kebaikan dan melihat
kekurangan diri. Senada dengan itu, al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu
adalah rasa takut untuk melaksanakan kejelekan. Diantara ulama ada pula yang
berpendapat, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fathu
al-Bary bahwa merasa malu dalam mengerjakan perbuatan haram adalah wajib,
dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunnah, dan dalam mengerjakan
perbuatan yang mubah adalah kebiasaan atau adat. Malu merupakan sesuatu yang
sangat berharga bagi manusia. Oleh sebab itu, jika manusia telah kehilangan
rasa malunya, maka ia tidak ada lagi bedanya dengan binatang.
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ
يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى
الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا
أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
(BUKHARI - 1) : Telah menceritakan kepada kami
Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami
Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al
Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi,
bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah
mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan
tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang
diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena
seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia
diniatkan"
JALUR SANAD
Rasulullah
Yahya bin Sa'id
Al Anshari
Bukhari
Perbuatan manusia terdiri dari niat
didalam hati, ucapan dan tindakan. Hadis tersebut diucapkan oleh Rasulullah
saw. sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabat yang terkait dengan motif
keikutsertaannya dalam hijrah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sabab
wurud hadis ini terkait dengan hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke
Madinah. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah besar sahabat ikut serta dengan
Nabi saw. untuk berpindah (hijrah) ke Madinah. Di antara para sahabat yang ikut
bersama Nabi saw., ada salah seorang di antara mereka yang ikut serta, tapi
niat keikutsertaannya bukan motif menyelamatkan aqidah dan memperjuangkan
dakwah Islam, tapi karena ia mengikuti seorang wanita pujaan yang akan
dikawinianya yang kebetulan hijrah bersama Rasulullah saw. ke Madinah. Menurut
riwayat, wanita tersebut bernama Ummu Qais. Pada awalnya, laki-laki tersebut
tidak berniat hijrah bersama Rasulullah saw., tapi karena wanita pujaannya
bertekat hijrah dan memutuskan siap dikawini di Madina. Atas dasar tersebut
maka laki-laki itu ikut serta bersama rombongan muhajirin ke Madinah, meskipun
motifnya lain, yaitu menikahi wanita pujaannya. Setelah sampai di Madinah,
kasus tersebut ditanyakan kepada Nabi saw. apakah orang tersebut mendapatkan
pahala hijrah sebagaimana pahala yang diperoleh oleh sahabat-sahabat lain. Maka
Rasulullah saw. bersabda bahwa: amal seseorang dipahalai berdasarkan niat,
sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang disebutkan di atas. Dengan
memperbanyak amal shalih dan ketaatan, maka keyakinan akan bertambah dan
keimanan akan semakin kuat. Sedangkan sedikit amal dan tenggelam dalam syahwat
serta kemaksiatan akan melemahkan iman.
Dalam kitab Riyadhush Shalihin dalam bab ikhlas Imam Nawawi berpendapat
”Ikhlas ialah seluruh ketaatan yang semata-mata ditunjukan karena Allah. Yakni
ketaatan seseorang mukmin yang dinamakan taqarrub itu tertuju kepada Allah
bukan dibuat-buat untuk manusia, untuk mendapatkan pujian manusia atau untuk
supaya disayangi manusia, atau maksud apa saja selain taqarrub kepada Allah.
Sesuai penjelasan di atas, maka perbuatan yang mendapatkan pahala
hanyalah perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah SWT. Dengan demikian,
meskipun sesuatu itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, tetapi perbuatan
tersebut bertentangan dengan perintah Allah saw. atau melanggar aturan Allah
swt., maka perbuatan tersebut sudah tentu tidak termasuk dalam kategori niat
yang dikehendaki dalam hadis di atas. Jadi, inti niat yang benar adalah harus
sesuai dengan perintah Allah SWT.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ ح و
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ
جُنْدَبًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَسَمِعْتُهُ
يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ
اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
(BUKHARI - 6018) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah
menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Salamah
bin Kuhail. lewat jalur periwayatan lain, telah menceritakan kepada kami Abu
Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah mengatakan; aku
mendengar Jundab menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, -dan
aku tak mendengar seorang pun (selainnya) mengatakan dengan redaksi 'Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, maka aku dekati dia, dan kudengar dia
menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; - "Barangsiapa yang
beramal karena sum'ah, Allah akan menjadikannya dikenal sum'ah, sebaliknya
barangsiapa yang beramal karena riya', Allah akan menjadikannya dikenal
riya."
JALUR SANAD
Rasulullah
Jundab
Musaddad
Bukhari
Riya berasal dari kata رَأَي yang
arti dasarnya adalah (melihat). Riya dalam bentuk mashdarnya berarti “tindakan
memperlihatkan atau memamerkan” sesuatu. Riya dalam pengertian istilah syariat
adalah melakukan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan
perintah Allah SWT. melainkan bertujuan untuk mendapat perhatian orang, baik
untuk tujuan popularitas, mendapat pujian, atau motif-motif selain karena Allah
swt.
Dalam terminologi
syari’at, riya’ adalah melakukan taat dan meninggalkan maksiat tetapi dengan
memperhatikan selain Allah SWT, atau menceritakannya, atau dia merasa suka amal
tersebut dilihat orang lain demi tujuan-tujuan duniawi.
Orang yang beramal dengan maksud agar ia dikatakan
sebagai orang yang dermawan, maka ia pun dimasukkan ke dalam neraka, karena
tujuan ibadahnya itu hanyalah ingin memperoleh kemasyhuran. Maka memberinya
kemasyhuran di dunia dan di akhirat tiada apa-apa lagi baginya kecuali neraka. Allah berfirman dalam Q.S
Al-Isra :18
`¨B tb%x. ßÌã s's#Å_$yèø9$# $uZù=¤ftã ¼çms9 $ygÏù $tB âä!$t±nS `yJÏ9 ßÌR ¢OèO $oYù=yèy_ ¼çms9 tL©èygy_ $yg8n=óÁt $YBqãBõtB #Yqãmô¨B ÇÊÑÈ
18. Barangsiapa menghendaki
kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang
Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka
Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.
Imam
Ali r.a mengemukakan tiga cirri-ciri orang riya sebagai berikut, yaitu malas
beramal kalau sendirian, semangat beramal kalau dilihat orang banyak, dan
amalnya bertambah banyak kalau di puji oleh orang lain, dan berkurang kalau
dicela orang lain. Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar al-Wasith
berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat penting. Namun,
jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam amalan, kita
tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi kita untuk
melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah beramal
seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada dalam
amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam
melakukan amal-amal dengan ikhlas.
Menurut Ibnu Hajar
al Astqalani, Sum’ah adalah amal
terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh
ridhonya,dan tercela jika ia membicarakan amalnya di hadapan manusia.
Ciri-ciri orang yang sum’ah yaitu : Giat beramal saat
bersama orang lain atau mendapat pujian. Giat beramal dan melipatgandakan tenaganya jika
mendapat pujian atau sanjungan, dan malas atau cenderung mengurangi amal jika
mendapat celaan dan kecaman. Juga apabila sedang bersama-sama dengan orang lain
cenderung menambah dan meningkatkan amal, sementara kalau sendirian dan jauh
dari pantauan orang lain cenderung mengurangi amal.
1. Hubungan iman, Islam,
ihsan dan hari kiamat yaitu Islam di atas pondasi dengan segala kriterianya,
disemangati oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar ihsan, dan
orientasi akhir segala aktifitas adalah akhirat.
2. Berkurangnya iman dan
Islam karena maksiat karena seorang manusia tidak sadar bahwa segala perbuatan
yang dilakukannya harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan akan menerima
akibat dari perbuatannya, baik ataupun buruk.
3. Malu termasuk dalam salah satu ciri orang yang beriman dan simbol
keberimanan seseorang karena merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan
Allah kepada manusia dan yang membedakan manusia dengan binatang.
4. Niat atau motivasi dalam
beramal adalah perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah
SWT. dan tidak bertentangan dengan perintah Allah saw. atau melanggar aturan
Allah SWT.
5. Menjauhi riya dan sum’ah dalam beribadah sangat
penting karena hal tersebut merupakan sifat yang tercela.
Pembahasan tentang Keimanan dan
Keikhlasan dalam makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan.
Oleh karenanya jika ada kesalahan dan kekurangan, kami mohon dibenarkan agar
dapat membantu kami demi kemajuan dan keluasan ilmu pengetahuan terutama
pengetahuan tentang Hadis Tarbawi.
Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalaniy al-Syafi’i.
1379 H. Fath al-Bariy Juz I. Beirut:
Daral-Ma’rifat.
Al-Ghazali, dkk. 2001.Menghidupkan Ajaran
Rohani Islam, Jakarta : Lentera.
Bukhari, hadis no. 48, Bab Hubungan Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat
dalam Kitab 9 Imam CD kutub al-Tis’ah
Husaini Majid Hasyim. 2003. Syarah
Riyadhush Shalihin Jilid I. Surabaya: Bina Ilmu.
Masjefuk
Judbi. 2007. Studi Islam Jilid 1 Akidah. Bandung : Adiatama..
Muhammad Nu’aim. 2002. Iman (Rukun, Hakikat
dan yang Membatalkannya). Bandung : Asyamil.
Muhammad. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk
Perguruan Tinggi. Bandung : Pustaka
Media.
Muhammad Fuad Abdul Baqi. 2002. Al-Lu’lu’ wal
Marjan. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Muhammad, Pendidikan Agama
Islam Untuk Perguruan Tinggi, Bandung : Pustaka Media, 2009, h.13.
Prof.Drs h. Masjefuk Judbi, Studi Islam Jilid 1 Akidah, Bandung :
Adiatama, 2007, h.8.