Tugas Kelompok I
MAKALAH
PEMBELAHAN SEL ATAU
INTI
Di Susun Oleh
Hendra
Jaya Saputra, NIM: 1301140327
Isnani
Haryati, NIM: 1301140331
Mahmudah,
NIM: 1301140333
Rizalul
Hadi, NIM: 1301140329
Siti Nuraini, NIM: 1101140276
Dibuat
Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata
Kuliah: ANATOMI TUMBUHAN
Dosen
Pengampuh: Nanik Lestariningsih, M.Pd
PROGRAM STUDI BIOLOGI
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PALANGKA RAYA
2015 M / 1437 H
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelahan
sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan
tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang
berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Sebagaimana diketahui, di dalam
inti sel terdapat benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin ini dapat
menyerap zat pewarna lebih banyak sehingga bila diamati dengan mikroskop tampak
lebih jelas. Kaetika sel akan membelah diri, benang-benang kromatin ini menebal
dan memendek, yang kemudian disebut kromosom. Penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat yang di dalamnya terdapat
gen.
Pada waktu sel sedang membelah dirri, terjadi proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel. Oleh karena pembelahan terjadi melalui fase-fase itulah maka disebut sebagai pembelahan sel secara tidak langsung. Pada dasarnya, pembelahan sel secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis.
Pada waktu sel sedang membelah dirri, terjadi proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel. Oleh karena pembelahan terjadi melalui fase-fase itulah maka disebut sebagai pembelahan sel secara tidak langsung. Pada dasarnya, pembelahan sel secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis.
Setiap
sifat pada makhluk hidup dikendalikan oleh faktor keturunan yang disebut gen.
gen terdapat dalam lokus tertentu di dalam kromosom, sedangkan kromosom
terdapat di dalam nukleus (inti sel). Kromosom yang berpasang-pasangan disebut
kromosom homolog, sedangkan pasangan gen disebut alel. Kromosom mulai tampak
sesaat ketika sel akan membelah dan selama proses pembelahan.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana terjadinya proses pembelahan sel?
2.
Apa saja jenis-jenis dari pembelahan sel?
3.
Apa saja penyimpangan-penyimpangan dalam pembelahan sel pada
tumbuhan?
C. TujuanPenulisan
1.
Agar Mahasiswa mengetahui
terjadinya proses pembelahan sel.
2.
Agar Mahasiswa mengetahui
macam-macam dari pembelahan sel.
3.
Agar Mahasiswa mengetahui penyimpangan-penyimpangan dalam
pembelahan sel pada tumbuhan.
D. Metode Pengumpulan Data
Adapun
metode pengumpulan data dalam menyusun makalah ini yaitu menggunakan
penelusuran pustaka (Library Research).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Terjadinya Pembelahan pada Sel
Dalam pertumbuhan
yang umum pada tumbuh-tumbuhan, alat-alat tumbuh-tumbuhan akan menjadi
bertambah besar, bertambah panjang serta bercabang-cabang. Terjadinya hal
demikian karena terdapatnya perbanyakan dan pertumbuhan dari sel-sel yang
menyusun tumbuhan tersebut. Perbanyakan sel-sel dapat terjadi karena terjadinya
pembelahan pada sel-sel.
Umumnya pada
tumbuhan terdapat zigot yaitu sebagai hasil dari peleburan antara dua buah sel
kelamin yang berlainan, yang selanjutnya dari zigot ini mulai berlangsungnya
pembelahan-pembelahan sel, misalnya dari sel yang satu dapat berbelah dua, dari
dua terbelah lagi menjadi empat, selanjutnya menjadi delapan dan demikian
seterusnya, hingga pada akhirnya sel-sel itu menjadi berates-ratus, ribuan dan
jutaan sel yang dapat membangun suatu individu tumbuhan dengan baik.
Proses pembelahan
sel ini dimulai dengan pembelahan intinya yang selanjutnya terjadi pembelahan
plasma atau pembelahan sel. Dalam pembelahan-pembelahan sel ini terdapat
pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.[1]
B. Jenis-Jenis Pembelahan Sel Pada Tumbuhan
1. Pembelahan secara amitosis
Pembelahan sel secara amitosis adalah pembelahan secara langsung atau
istilah lainnya fragmentation. Pembelahan
sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan
tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang
berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Dalam
pembelahan cara ini terdapat gejala-gejala bahwa inti sel telah mengalami
kemunduran, sehingga inti sel
mulai
terbelah, yang dalam pembelahan ini dapat menjadi dua bagian atau lebih.
Masing-masing bagian pembelahan ini dapat berwujud bagian yang sama besar
ataupun tidak sama besar, yang dalam hal ini tidak ada kepastian apakah
masing-masing akan membawa sifat-sifat keturunan yang sama atau tidak.[2]
Pembelahan sel secara amitosis atau langsung, disebut demikian karena
terjadinya pembelahan itu tidak mengalami tahap-tahap perubahan terlebih
dahulu, melainkan langsung saja membelah. Pembelahan sel demikianbiasanya
terdapat pada Phacophyccae atau ganggang coklat, Characeae atau ganggang chara,
serta pada sel-sel tumbuhan dari family Liliaceae. Cara amitosis pada tumbuhan menunjukkan
bahwa sel atau inti masih berada dalam tingkat kemunduran.[3]
2. Pembelahan secara mitosis (Homoiotypic Division)
Pembelahan sel secara mitosis adalah pembelahan secara tidak langsung,
atau dengan istilah lain cykenesis. Pembelahan mitosis adalah pembelahan sel yang
terjadi apabila sel anak mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah
kromosom sel induknya. Pembelahan sel secara mitosis disebut juga dengan
pembelahan secara tidak langsung. Mitosis hanya terjadi pada sel eukariotik dan
pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh). Pembelahan
mitosis terdiri atas pembelahan inti dan pembelahan sitoplasma. Disebut sebagai
pembelahan sel secara tidak langsung karena sebelum terjadi pembelahan inti
sel, telah didahului dengan terjadinya beberapa perubahan yang dapat
diperhatikan sebagai perubahan yang sangat penting, yaitu terbentuknya kromosom
dalam inti sel selama berlangsungnya proses pembelahan tersebut.
Kromosom-kromosom ini dapat membagi inti sel menjadi dua bagian yang sama besar.
Dengan demikian maka bagian-bagian
(masing-masing inti anak) akan memiliki sifat-sifat induknya yang sama.
Pada sel-sel organisme multiseluler, proses
pembelahan sel memiliki tahap-tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel-sel
tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Adapun
tahapan-tahapannya yakni sebagai berikut:[4]
a.
Interfase
Adalah tahapan
sebelum terjadinya inti sel. Dalam tahapan ini tampaknya seolah-olah tidak
terjadi apa-apa sehingga disebut sebagai “tahapan istirahat”. Namun istirahat disini bukan berarti tidak
melakukan aktivitas apapun. Yang dimaksud dengan istirahat disini adalah sel
berhenti membelah, tetapi masih tetap melakukan aktivitas non pembelahan. Inti sel sedang aktifnya mengadakan metabolism (pernapasan, dan
lain-lain), sehingga dapat dikatakan juga sebagai tahap persiapan menjelang
profase awal.
b.
Profase awal
Sebagai pemula dari
proses ini, inti sel mulai dengan pembelahan pendahuluan. Jika dilihat dengan
mikroskop electron, tampak dalam inti
sel terjadi pengerutan yang disebabkan terjadinya butiran-butiran halus ini
akan berubah menjadi benang halus yang bentuknya tidak menentu. Dalam waktu
yang tidak lama, mulai tampak bahwa benang-benang halus tersebut makin lama
mulai menebal dan terbelah-belah seperti spiral yang terdiri dari dua kromatid.
Tampak seperti benang-benang yang rangkap.
c.
Profase akhir
Dalam
tahapan ini benang-benang tersebut akan terputus-putus, berubah menjadi
batang-batang halus yang disebut kromosom. Selanjutnya karena pengaruh dehidrasi
atau kekurangan air di dalam sel serta pengendapan nucleic acid (asam nukleat) yang terus bertambah, maka
benang-benang kromosm akan memendek.
Dapat
dikatakan bahwaa pengendapan asam nukleat akan menyebabkan zat warna lebih
banyak, dan terjadinya pemendekan dan penebalan kromosom karena kromatid
mengerut menjadi dua spiral yang halus.Terjadinya pengerutan spiral-spiral yang
halus dalam suatu matriks yang mengelilinginya menyebabkan tak tampaknya dengan
jelas pengerutan-pengerutan tersebut.
Kromosom
selanjutnya akan berkumpul di tengah-tengah nucleus (inti sel) dan di dalam
plasma sel di luar intinya akan terbentuk benda-benda seperti jala, pada dua
tempat yang berlawanan seperti kutub, yaitu kutub atas dan kutub bawah yang
dihubungkan oleh benang-benang plasma yang keluar dari masing-masing kutub
tersebut. Bersamaan dengan terbentuknya kromosom tersebut, membrane inti
beserta butir halusnya (nucleolus) akan menghilang, sehingga kromosom tersebut
tampak berkumpul di tengah-tengah sel di dalam sitoplasma. Kemungkinan
benang-benang plasma yang keluar dari masing-masing kutub itu hanya sebagai
pendorong kromosom, hal ini karena benang-benang plasma itu hanya sampai pada
kromosom-kromosom tersebut. Jadi benang-benang plasma (framoplast) akan
mendesak kromosom ke tengah-tengah.
Apabila
keadaan fiksasi sekitar kromosom itu baik, pada akhir profase ini seringkali
kromosom dapat dihitung jumlahnya dan pada tiap kromosom dapat terlihat adanya
sentromer (tempat pada kromosom dimana bagian-bagiannya belum jelas menunjukkan
rangkap dua). Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa semua sentromer letaknya
berdekatan antara satu ddengan lainnya yaitu pada sisi inti selnya.[5]
d.
Prometafase (metaphase awal)
Metafase awal
merupakan tahapan dalam proses pembelahan sel, dimana terjadi perubahan besar
diantaranya dinding inti dan butir halus nucleolus menjadi hilang sama sekali,
berganti dengan terbentuknya gelendong inti seperti halnya kumparan dengan
kutub atas dan kutub bawah tadi. Dalam kejadian ini tampak dengan jelas hubungan
antara benang-benang fragmoplas (yang menghubungkan kutub-kutub) dengan
sentromer dari kromosom. Selanjutnya dalam gelendong inti terjadi
gerakan-gerakan kromosom yang seolah-olah diatur oleh sentromer, dengan
gerakan-gerakan bagian-bagian lain dari kromosom yang berlangsung secara pasif.[6]
e.
Metaphase Akhir
Dalam tahapan ini
terjadi penempatan kromosom pada bidang ekuatorial atau pada bidang tengah,
yaitu tampak seperti papan sehingga disebut papan metaphase atau papan inti.
Dalam perwujudan bentuk yang demikian sentromer-sentromer akan berada di
tengah-tengah (ekuator) sedangkan benang-benang kromsom yang panjang terletak
jauh di luar ekuator. Dalam keadaan demikian sentromer-sentromer masih tetap
belum membagi serta menghubungkan kedua kromatid. Bagian sentromer ini
menghadap ke kutub dapat dikatakan lebih dekat jika dibanding dengan
bagian-bagian kromosom lainnya yang telah saling berbelit atau berkelokan.
Apabila keadaan
diatas diperhatikan dengan menggunakan mikroskop , akan tampak pada bidang
ekuator suatu wujud bagaikan bintang, sehingga tahapan ini sering juga disebut
tahapan bintang (stadium aster).[7]
f.
Anafase awal
Pada tahapan ini
ternyata bahwa tiap-tiap kromatid berada pada bidang ekuator. Mulai tertarik ke
kutub-kutubnya seakan-akan telah menunjukkan terjadinya pemisahan-pemisahan,
yang berlangsung dari kromatid-kromatid tadi pada sentromer-sentromer yang
kenyataannya sekarang membelah.
Dalam kejadian ini
tampak seakan-akan sentromer-sentromer itulah yang mengatur gerakan-gerakannya,
seakan-akan telah terjadi tarikan-tarikan ke kutub (atas dan bawah) oleh
benang-benang fragmoplas yang melekat pada sentromer, sedangkan benang-benang
dari kromosom mengikutinya secara pasif.
Benang-benang yang
telah dijelaskan diatas yaitu benang-benang fragmoplas, biasanya disebut
benang-benang tarik dan benang-benang yang berjalan dari kutub ke kutub,
biasanya disebut benang-benang penyokong atau benang peluncur.Baik benang tarik
maupun benang penyokong terdiri dari satu berkas halus dan lazimnya disebut fibril.[8]
g.
Anaphase akhir
Pada tahapan ini
pembelahan telah berlangsung dengan tegas, dimana kedua kromatid dari
masing-masing kromosom tampak dengan jelas saling menjauhi bidang ekuator, dan
berkumpul pada kutub-kutubnya.
Dengan menggunakan
mikroskop tampak dengan jelas bahwa di tengah-tengah sel seakan-akan telah
terbentuk dua buah bintang. Sehubungan dengan bentuk dua bintang yang tampak
maka tahapan ini sering juga disebut tahapan stadium diaster.
h.
Telofase awal
Pada tahapan ini
kromatid atau belahan-belahan kromosom telah berada pada kutubnya masing-masing
dari gelendongan inti. Dan disekitar kromosom dinding-dinding baru pada intinya
telah terbentuk pula, yang selanjutnya kromosom menjadi satu serta membentuk
lagi benang-benang yang tidak menentu bentuknya. Demikian pula halnya dengan
butir-butir halus (nucleolus) yang biasa terdapat pada inti menjadi tampak
kembali dan terbentuk pada suatu penggentingan dari satu pasangan kromosom
tertentu.
Adanya kadar air
yang bertambah dan berkurangnya nucleoprotein menjadikan kromosom pada tahapan
ini menjadi berkurang kemampuannya untuk melakukan penyerapan zat warna.
i.
Telofase akhir
Tahapan ini ditandai
dengan terbentuknya dua buah inti sel baru, yang merupakan inti sel anak
sebagai hasil pembelahan. Tentang terbentuknya membrane pada sel-sel baru dapat
dikemukakan bahwa benang-benang fragmoplas yang ada disekitar ekuator mengalami
penebalan, dan penebalan ini pada akhirnyaakan saling mendekati sehingga
selanjutnya bersentuhan antara satu dengan lainnya. Dengan demikian maka antara
kedua inti anak sel itu dapat terbentuk membrane sel baru, sehingga dari satu
sel induk terjadi dua sel anak yang merupakan sel-sel baru dengan jumlah
kromosom masing-masing sama dengan kromosom sel induk. Selanjutnya sel anak
tersebut setelah melalui periode tertentu akan menjadi sel dewasa yang siap untuk melakukan pembelahan
dan demikian seterusnya.[9]
Dalam hal pembentukan membran sel yang baru sehubungan
dengan berlangsungnya pembelahan sel secara mitosis dapat terjadi secara simultan
(secara sekaligus atau serempak). Di samping dapat pula terjadi secara
berangsur-angsur, yang disebut succedan (suksedan). Tentang pembentukan
membran sel baru dalam kedua cara ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.
Simultan: pembentukan membran sel
baru umumnya berlangsung pada sel-sel yang kecil di mana vakuola pun
kecil-kecil.
b.
Suksedan: pembentukan membran sel
baru umumnya berlangsung pada sel-sel yang besar di mana vakuolanya yang besar
terdapat pula di dalamnya. Dalam pembelahan, inti selnya akan bergerak dari
kiri ke kanan diikuti dengan terbentuknya membran sel yang baru. Pada sel-sel
kambium misalnya, pembelahan inti sel berlangsung secara membujur, membran
selnya berlangsung secara suksedan yang dimulai dari bagian tengah selnya.
Selanjutnya dalam hal ini benang-benang fragmoplas mulai melangsungkan
penebalan-penebalan baru, baik ke bagian kiri dan ke bagian kanan dari selnya.[10]
Dalam hal berlangsungnya pembelahan sel smatis dari
ujung-ujung akar tumbuhan (yang akar-akarnya masih aktif, atau hidup) dapat
dikatakan bahwa setiap inti sel membelah mengalami semua tahapan berlangsungnya
pembelahan (siklus pembelahan) dari interfase ke interfase berikutnya. Pada
preparat-preparat yang telah difiksasi serta diberi pewarnaan, walaupun
keadaannya memang rumit, kita seyogianya harus dapat merekonstruksi siklus
pembelahan yang telah berlangsung. Dinyatakan rumit terutama karena pada
tahapan pemula dan tahapan akhir memang sulit sekali dapat difiksasi dengan
baik. Akan tetapi keadaannya demikian, dengan jalan melakukan pengamatan pada
pembelahan-pembelahan ini sel dan pembelahan selnya yang ada dalam
jaringan-jaringan yang aktif (hidup), maka kebenaran dari rekonstruksi yang
dilakukan dapat kita kaji.
3. Pembelahan Secara Meiosis (Reduksi= “Heterotypic Divison”)
Pembelahan sel secara meiosis atau reduksi yang sering
pula dinyatakan sebagai pembelahan “heterotypic divison”, berlangsung
dalam bentuk sel-sel klamin. Dengan demikian sangat berkaitan dengan
tumbuh-tumbuhan yang melangsungkan pembiakannya secara generatif.
Mengenai sel klamin ini dapat dikemukakan bahwa sel-sel
tersebut mempunyai inti yang haploid yaitu inti dengan jumlah n
khromosom, sedangkan dalam zigotatau hasil peleburan dua sel kelamin
ternyata khromosomnya tidak bersatu. Dengan demikian maka tentunya dalam inti
zigot akan terdapat diploid yaitu 2n khromosom. Seluruh khromosom dalam
satu sel klamin adalah satu genom, dengan demikian maka sel diploid
merupakan dua genum dan dari dua genum ini akan terdapat dua khromosom yang
memiliki keasamaan-kesamaan dalam bentuk, besar, serta jumlah gen yang ada
padanya. Khromosom demikian adalah khromosom geminusatau kembar dan
disebut khromosom homolog. Khromosomnya itu satu berasal dari sel
kelamin jantan dan satunya lagi dari sel klamin betina.
Dalam pembentukan sel-sel kelamin berasal dari sel ini
tentunya jumlah khromosomnya harus mengalami pengurangan, jelasnya dari 2n
menjadi n. Sebab tanpa berlangsungnya reduksi maka bila terjadi perkawinan,
jumlah khromosomnya kan menjadi berlipat ganda. Dalam garis besarnya sel cara
meiosis berlangsung melalui dua tingkatan.[11]
a.
Pada Tingkat Pertama
Pada tingkat pertama ini pengurangan (reduksi)dalam
jumlah khromosom memang benar-benar terjadi, dan kegiatannya berlangsung dalam
4 tahapan, sebagai berikut:
1)
Profase I: pada tahapan
inikegiatan-kegiatannya dapat dibedakan atas 5 subfase, yaitu:
(a)
Leptonema, dalam sub fase ini inti sel memperlihatkan adanya benang-benang halus
yang keadaannya berlekuk-lekuk, tapi masih sulit untuk menentukan apakah
benang-benang halus itu tunggal atau rangkap dua.
(b)
Zygonema, permulaan terbentuknya khromosom yang homolog, pada tingkat ini dapat
terlihat adanya gerakan saling mendekati dari khromosom homolog, yang
selanjutnya membentuk suatu geminus. Peristiwa perkawinan khromosom
tersebutdisebut sinapsis. Geminus yang dibentuknya itu bermula dari
sentromer dan berlanjut pada ujung-ujungnya.
(c)
Pachynema, pada tingkatan ini dapatt dinyatakan bahwa pembentukan geminus telah
sempurna, yang dalam keadaan ini tampaknyadalam inti terdapat setengah dari
jumlah khromosom yang seharusnya ada.
(d)
Diplonema, khromosom yang telah membentuk geminus pada tingkatan ini melakukan
pembelahan secara membujur, dengan demikian akan tampak terbentuknya 4 buah
khromatid dari masing-masing geminus. Keempatnya akan berpasangan kemudian tiap
pasangan akan saling menjauhkan diri, walaupun tampaknya demikian, terdapat
suatu tempat pada geminus yang memperlihatkan tetap adanya hubungan. Pada
tempat yang dimaksud letak 2 khromatid yang berada di sebelah dalam
persilangkan sedang 2 khromatid lagi yaitu yang letaknya di bagian paling luar
berada dalam keadaan bebas. Tempat titik persilangan tersebut disebut chiasma
(hiasma). (Dalam ilmu Genetika disebut: “crissing over”).
(e)
Diakenese, gulungan-gulungan bagaikan spiral tampak pada tingkatan ini, yang makin
lama tampak makin rapat, disebut khromonema, khromosom-khromosom tampak
bertambah tebal, letak geminus-geminusnya pada bidang ekoator terdapat di
pinggir inti dan belum teratur.[12]
2)
Metafase I: pada permulaan dari tahapan ini membran nukleus dan nukleolusnya
(butir-butir inti) keadaannya seperti tidak tampak lagi (menghilang) dan
selanjutnya merupakan awal terbentuknya benang-benang fragmoplas. Serta
geminus-geminus dengan sentromernya tampak mulai bergerak ke arah bagian-bagian
kutubnya, yang selanjutnya melakukan penempatan dari pada bidang ekouatornya.
Ekoilibrium atau
keadaan yang seimbang di mana geminus-geminus telah berhasil menempatkan diri
secara keseluruhannya pada bidang ekuator ternyata telah tercapai pada akhir
dari tahapan ini.
3)
Anafase I: pada tahapan ini tampak masing-masing bagian seperduanya dari geminus
melakukan serakan ke arah kutub masing-masing yang selanjutnya berkumpul pada
masing-masing kutubnya tersebut.
4)
Telofase I(interkenese): kegiatan-kegiatan selanjutnya yang berlangsung dalam tahapan ini adalah
pembentukan dua buah inti sel di dalam selnya. Khromosom-khromosom yang
terkandung dalam inti sel anak masing-masing adalah n, yang jumlahnya seperdua
dari jumlah khromosom induk selnya. Jumlah yang demikian ini jelas telah
merupakan pengurangan (reduksi) yang telah berlangsung pada jumlah khromsom
yang sebenarnya. Pembelahan demikian ini disebut pembelahan reduksi.
b.
Pada Tingkat Ke Dua
1)
Metafase II: masa interkenese di atas merupakan masa istirahat. Awal matafase II
berlangsung setelah masa interkenese tersebut, di mana kedua intisel anak itu
mulai lagi melangsungkan kegiatan-kegiatan pembelahan inti yang mengarah pada
pembelahan tingkat kedua. Pembelahan ini merupakan pembentukan sel-sel kelamin.
Dalam hal ini prosesnya tidak ada perbedaan dengan pembelahan mitosis dari inti
sel anak. Kecuali mengenai letak ekuatornya di mana pada metafase II ini dapat
di katakan bahwa letaknya akan tegak lurus pada bidang ekuator dari pembelahan
tingkat I.
2)
Anafase II: pada tahapan in tampak khromosom-khromosom inti sel anak
masing-masing telah melakukan pembelahan dan masing-masing telah jelas
melakukan pemisahan-pemisahan.
3)
Telofase II (tetrade): pada tahapan ini yaitu tahapan setelah selesainya pembelahan tingkat
dua, selanjutnya terdapat 4 buah sel klamin yang masing-masing bersifat haploid
(n khromosom) yang berasal dari sel induk yang bersifat diploid (2n khromosom).
Reduksi di sini disebut pembelahan tetrade.[13]
Hasil meiosis berupa satu sel induk yang diploid (2n) menjadi 4 sel
anakan yang masing – masing haploid (n),
jumlah kromosom sel anak setengah dari jumlah kromosom sel induknya, pembelahan
meiosis hanya terjadi pada sel-sel generative atau sel-sel gamet seperti sperma
dan ovum (sel telur).[14]
C. Penyimpangan dalam Pembelahan Sel
Tidak jarang pula pada tumbuh-tumbuhan terjadi
penyimpangan dalam cara pembelahan inti sel atau dalam cara pembentukan sel-sel
baru. Penyimpangan itu sering terjadi pada tumbuh-tumbuhan rendah atau pada
alat-alat tertentu dari tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi.
Dalam hal penyimpangan ini yang akan dikemukakan adalah
tentang pembelahan inti sel yang bebas, penonjolan sel, dan pembentukan sel
bebas.[15]
1. Pembelahan Inti Sel Bebas
Dalam hal ini kita
dapat mengetahui berlangsungnya pembelahan inti sel hingga beberapa kali, yang
ternyata tidak disertai dengan pembelahan selnya. Hal yang menarik dengan
kejadian ini ialah inti-inti anak hasil pembelahan itu masing-masing masih
memiliki sifat-sifat yang sama dengan inti induknya. Sel-sel yang demikian
disebut koenosit. Tumbuh-tumbuhan rendah yang sel-selnya berupa
koenosit, misalnya Cladophora yaitu jenis ganggang hijau (Chlorophyta).
Pada sel-sel Cladophora
ini memiliki inti banyak, di sekitar masing-masing intinya itu terdapat
butir-butiran pyrenoid yang seimbang besarnya dengan inti, dan disekitar butiran-butiran
pyrenoid itu terkumpul pula butiran-butiran tepung.
Pembelahan inti sel
secara bebas ini berlangsung pula dalam organ tertentu dari tumbuhan tinggi,
mislnya pada saccus embtyonalis (kandungan lembaga) golongan
Spermatophyta. Dalam bakal biji inti sel primer dengan sifatnya yang diploid
pada mulanya melangsungkan pembelahan secara meiosis, yang menghasilkan 4 buah
inti sel anak dengan sifat yang haploid. Kehadiran 4 macah buah inti sel anak
tidak dapat dipertahankan seluruhnya, ternyata yang 3 buah mati, jadi yang
tumbuh terus hanya sebuah. Kemudian dari senbuah inti sel ini akan membelah
lagi secara mitosis. Pembelahan ini berlangsung sampai 3 kali maka akan
terbentuk 8 buah inti sel yang haploid.
2. Penonjolan Sel
Dalam proses ini
sel-sel baru terbentuk dengan cara pembentukan tunas-tunas dan sel-sel dalam
bentuk penonjolan-penonjolan pada sel-sel lama. Penonjolan-penonjolan pada
sel-sel lama dalam arti terbentuknya sel-sel baru. Proses pembentukan sel-sel
dalam kejadian seperti ini adalah sebagai berikut:
a.
Pembentukan tonjolan-tonjolan pada
sel-sel sehubungan dengan terjadinya tunas-tunas sel
b.
Setelah terjadi pembelahan pada
inti, salah satu di antara inti anak inibergerak memasuki tunas-tunas sel.
Gerakan ini di mungkinkan karena adanyagerakan plasma sel yang dlam hal ini
inti anak mengikuti arus plasma sel tersebut ke dalam tunas-tunas sel
c.
Terbentuknya membran pemisah yang
selanjutnya memungkinkan sesl-sel baru akan lepas
3. Pembentukan Sel bebas
Dalam perkembangan
tumbuh-tumbuhan, terutama pada tumbuh-tumbuhan rendah, misalnya pada golongan
Fungi yang termasuk dalam Ascomycete, sering pula terjadi cara-cara pembentukan
sel-sel baru di dalam sebuah sel, seperti pembentukan spora-spora dalam sel
ascus.
Kalau kita
perhatikan pertumbuhan Cendawan Ascomycete, pada akhir pertumbuhannya akan
membentang, yang dlam keadaan ini akan terbentuk sel besar, berbentuk sebagai
perisai dengan sebuah inti.
Inti pada sel yang
berbentuk seperti perisai itu akan melangsungkan pembelahan secara bebas dalam
sel tersebut, yang ternyata dapat membelah-belah menjadi 8 inti anak. Dari
salah satu ujung inti akan keluar benang-benang plasma, benang-benang plasma
ini selanjutnya akan bertambah panjang yang pada akhirnya akan mengelilingi
inti serta ujung-ujungnya akan bertemu, membentuk membran sel yang mengitari
inti tadi. Sehingga dengan cara demikian dapat terbentuk 8 buah sel spora dalam
sel besar tersebut.[16]
Sel-sel spora yang
terbentuk itu disebut ascospora, sedangkan sel besar yang mengandung
kedelapan ascospora disebut ascus. Plasma sel acus ini selanjutnya
disebut periplasma (jelasnya: plasma sel ascus yang setelah melingkari 8
ascuspora, merendamnya pula).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Terjadinya Proses pembelahan sel pada
tumbuhan dimulai dengan pembelahan intinya yang selanjutnya terjadi pembelahan
plasma atau pembelahan sel. Dalam pembelahan-pembelahan sel ini terdapat
pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.
2.
Jenis-jenis dari pembelahan sel pada tumbuhan ada 3, yaitu:
a.
Pembelahan secara amitosis
b.
Pembelahan secara mitosis, dan
c.
Pembelahan secara meiosis
3.
Penyimpangan-penyimpangan dalam pembelahan sel pada tumbuhan
ada 3, yaitu:
a.
Pembelahan inti sel bebas
b.
Penonjolan sel
c.
Pembentukan sel bebas
B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, penulismengharapkan
saran dan kritik dari Ibu pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan
makalah ini. DanDiharapkan bagi para
pembaca sekalian agar bisa mencari referensi lain untuk menambah pengetahuan
tentang Pembelahan sel atau inti.semoga makalah ini
bermanfaat bagi yang membacanya. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Sumadi,
dkk. 2007. Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sutriyan,
Yayan, Pengantar Anatomi Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rinneka Cipta, 2011
[1] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 67
[2]Sumadi, dkk, Biologi Sel, Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2007, h. 35
[3] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 68
[4] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 68-69
[5] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 70
[6] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 71
[7]Ibid,
h 71-72
[8] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 72
[9] Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 73
[10]
Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan,
Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 74
[11]
Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan,
Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 77
[12]
Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan,
Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 78
[13]
Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan,
Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 79
[14]Sumadi,
dkk, Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007, h. 45
[15]Yayan
Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan, Jakarta:
Rineka Cipta, 2011, h. 81
[16]
Yayan Sutrian, Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan : Tentang Sel dan Jaringan,
Jakarta: Rineka Cipta, 2011, h. 82-84
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Mohon berikan komentar :)