Minggu, 15 Maret 2015

Selaput Embrio



Kelompok 9
MAKALAH
SELAPUT EMBRIO

Disusun Oleh : Isnani Haryati




Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah         : Perkembangan Hewan
Dosen                   : Jumrodah, S.Si., M.Pd.





PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
TAHUN 2015
.. 12







BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Salah satu cirri makhluk hidup adalah bereproduksi (berkembang biak). Reproduksi bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan atau eksistensi suatu spesies tersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara umum yaitu vegetative dan generative. Perkembangbiakan secara vegetative umumnya terjadi pada tumbuhan dan hewan tingkat rendah. Sedangkan perkembangbiakan secara generative umumnya terjadi pada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangbiakan secara generative melibatkan individu jantan dan individu betina. Individu jantan akan menghasilkan sel kelamin jantan atau sperma, sedangkan individu betina akan menghasilkan sel kelamin betina atau sel telur (ovum).
Seperti organisme lainnya, manusia berkembangbiaj secara seksual dan pada saat tertentu akan membentuk sel-sel kelamin (gamet). Setelah sel telur di dalam ovarium masak, dinding rahim menebal dan banyak mengandung pembuluh darah. Pembuahan didahului oleh peristiwa ovulasi, yaitu lepasnya sel telur yang masak dari ovarium. Jika sperma bertemu dengan ovum akan terjadi pembuahan. Pembuahan terjadi di oviduk. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput, kemudian menuju ke rahim. Di dalam rahim zigot menanamkan diri pada dinding rahim yang telah menebal.
Selaput ini dikenal dengan nama selaput embrionik. Selaput terbentuk selama perkembangan embrio dan bukan merupakan bagian dari tubuh embrio dan letaknya di luar tubuh embrio. Memiliki fungsi sebagai media perantara pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio, pemberi nutrisi, proteksi dan sekresi.


Plasenta adalah organ embrio yang merupakan pertautan antara jaringan embrio dan jaringan induk. Pada manusia, jaringan induk yang ikut serta dalam pembentukan plasenta adalah endometrium uterus. Pembentukan plasenta pada manusia dimulai pada minggu pertama kehamilan dan berkembang terus sampai kehamilan berumur sekitar 8 bulan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian selaput embrio?
2.      Apa saja jenis-jenis dan fungsi dari selaput embrio?
3.      Apa saja macam-macam plasenta pada hewan?
4.      Bagaimana mekanisme pembentukan selaput embrio pada ayam dan mamalia?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian selaput embrio.
2.      Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis dan fungsi dari selaput embrio.
3.      Untuk mengetahui dan memahami macam-macam plasenta pada hewan.
4.      Untuk mengetahui dan memahami mekanisme pembentukan selaput embrio pada ayam dan mamalia.





BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pengertian Selaput Embrio

Selaput embrio merupakan selaput pada bagian luar yang membungkus embrio agar berada persis pada posisi normal di dalam organ reproduksi betina yaitu tempat embrio berkembang, berfungsi sebagai perlindungan agar embrio tidak terkontaminasi oleh antigen lain. Selaput embrio berfungsi sebagai media perantara bagi pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio. Embrio dapat bertahan hidup sendiri selama beberapa waktu dengan menyerap makanan dari kantung kuning telur.

B.     Jenis-jenis dan Fungsi Selaput Embrio

Ada empat macam selaput embrio yang umumnya terdapat pada embrio vertebrata tingkat tinggi, yaitu sebagai berikut.

1.      Amnion

Berasal dari bahasa Yunani, amnion yang berarti membran fetus. Seperti kantung tipis yang berasal dari somaotopleura, membentuk suatu kantung menyelubungi embrio dan berisi dengan cairan. Keberadaan selaput ini sangat khas pada reptile, burung dan mamalia sehingga pada kelompok ini sering disebut dengan kelompok amniota, sedangkan ikan dan amfibi tidak mempunyai amnion dan disebut anamiota. Fungsi amnion antara lain sebagai alat pernapasan, menyelubungi dan melindungi embrio dari tekanan fisik, dan tempat mengambang, memungkinkan pergerakan tungkai dari tubuh embrio.[1]

2.      Kantung kuning telur (yolk)

Kantung kuning telur sangat erat fungsinya dalam nutrisi pada embrio dan kuning telur bekerja dalam waktu yang cukup singkat karena fungsi kerjanya dalam pertumbuhan berikutnya akan dilanjutkan oleh allantois. Mencegah embrio dari kekeringan, mengurangi resiko guncangan, dan menyerap putih telur (pada ayam).


Mengangkut bahan makanan, gas, dan sisa metabolism lain. Sebagai kantung urin embrional dan sebagai paruparu embrional. Kuning telur dicerna oleh enzim yang dihasilkan kantung kuning telur dan hasil cernaan itu dibawa ke embrio melalui pembuluh darah kantung kuning telur.[2]

3.      Allantois

Allantois tumbuh dari saluran pencernaan belakang dan terletak dibagian dalam dari korion seperti balon besar yang kempis. darah dari embrio dialirkan ke luar masuk dalam allantois oleh pembuluh allantois. Fungsi utamannya adalah sebagai tempat penampung dan penyimpan urin dan sebagai organ pertukaran gas antar embrio dan lingkunga luarnya. Pada reptile dan burung, allantois merupakan suatu sistem tertutup. Sehingga allantois harus memisahkan sisa-sisa metabolisme nitrogen agar tidak menimbulkan efek toksik terhadap embrio. Pada mamalia, peran allantois erat kaitannya dengan efisiensi pertukaran yang berlangsung pada perbatasan fetus maternal.

4.      Karion atau serosa

Berasal dari bahasa Yunani, chorion yang berarti kulit. Karion atau serosa adalah membran embrio yang paling luar dan berbatasan dengan cangkang atau jaringan induk, jadi merupakan tempat pertukaran antara embrio dan lingkungan sekitarnya. Pada hewan-hewan ovipar, korion berfungsi sebagai pertukaran gas bagi respirasi. Pada mamalia, korion tidak hanya berperan sebagai pembungkus dan respirasi saja tetapi juga dalam nutrisi, ekskresi, filtrasi, dan sintesis hormon.

C.    Macam-macam Plasenta pada Hewan

Plasenta adalah pertemuan antara pembuluh darah fetus dan maternal yang berfungsi sebagai sirkulasi nutrisi dan gas. Perbedaan empat macam plasenta dan masing-masing contoh hewannya, yaitu:

1.      Plasenta difusa

Plasenta yang keadaan filinya menyebar merata diseluruh bagian korion serta penembusan filinya ke dalam selaput lender rahim dangkal. Contoh babi dan kuda.

2.      Plasenta kotiledon

Filinya berkelompok-kelompok dan pertautannya lebih dalam pada selaput lender rahim dan kotiledonnya menjulur ke dalam pori-pori selaput lendir rahim. Contohnya hewan ternak.

3.      Plasenta zonaria

Plasenta zonaria berbentuk ikat pinggang dan mengitari rahim di bagian tengah korioalantoisnya. Contohnya pada hewan karnivora.

4.      Plasenta diskoidal

Plasenta diskoidal berbentuk cakram dan jumlahnya bias satu atau lebih.[3]

D.    Mekanisme Pembentukan Selaput Embrio pada Ayam dan Mamalia

1.      Mekanisme Pembentukan Selaput Embrio pada Ayam

Pada embrio awal, somatopleura meluas ke luar daerah tubuh embrio sampai ke atas yolk. Daerah di luar dari tubuh embrio disebut ekstra embrio. Mula-mula tubuh embrio ayam tidak mempunyai batas sehingga lapisan-lapisan ekstra embrio saling berkelanjutan. Dengan terbentuknya tubuh embrio, secara berurutan dibentuk lipatan-lipatan sehingga akhirnya tubuh embrio hampir terpisah dai yolk. Dengan adanya lipatan-lipatan tubuh ini maka batas antara daerah intra embrio dan ekstra embrio menjadi jelas.
Kantung yolk merupakan selaput ekstra embrio yang paling awal dibentuk, splanknopleura embrio ayam tidak membentuk suatu saluran tertutup tetapi tumbuh di atas permukaan yolk, dan mengelilinginya sehingga membentuk suatu kantung. Splanknopleura yang mengelilingi yolk awalnya berasal dari hipoblast primer dan sekunder. Kantung kuning telur meluas di atas permukaan massa kuning telur. Sel-sel kantung kuning telur akan mencerna kuning telur, dan pembuluh darah yang berkembang di dalam membran itu akan membawa nutrient ke dalam embrio.
Lipatan lateral jaringan ekstra embrionik menjulur ke atas bagian embrio dan menyatu untuk membentuk dua membran tambahan, yaitu amnion dan korion, yang dipisahkan oleh perluasan ekstra embrionik selom. Amnion membungkus embrio dalam kantung yang penuh cairan, yang melindungi embrio dari kekeringan dan bersama-sama dengan korion menyediakan bantalan bagi embrio agar terlindung dari setiap guncangan mekanis. Membran keempat yaitu allantois, berasal dari pelipatan ke luar perut belakang embrio.
Allantois adalah kantung yang memanjang ke dalam selom ekstra embrionik. Allantois berfungsi sebagai kantung pembuangan limbah bernitrogen yang tidak larut dari embrio. Allantois dan korion membentuk organ respirasi yang melayani embrio. Pembuluh darah yang terbentuk dalam epithelium allantois mengangkut oksigen ke embrio ayam. Membran ekstra embrionik reptile dan burung merupakan adaptasi yang berkaitan dengan permasalahn khusus perkembangan di darat.

2.      Mekanisme pembentukan selaput embrio pada Mamalia

Pada umumnya membrane ekstra embrionik mempunyai fungsi yang sama pada mamalia dan reptile. Korion merupakan tempat pertukaran gas, dan cairan dalam amnion secara fisik melindungi perkembangan embrio. Merupakan cairan ketuban dilepaskan dari vagina saat wanita hamil sebelum melahirkan. Allantois menentukan limbah dalam telur reptile, sedangkan pada mamalia termasuk ke dalam tali pusat. Tidak membentuk pembuluh darah yang mengangkut oksigen dan nutrisi dari plasenta ke embrio dan melepaskan embrio karbon dioksida dan nitrogen limbah. Yolk sac pada telur reptil berfungsi untuk membungkus kuning telur. Sedangkan pada mamalia adalah tempat dari awal pembentukan sel-sel darah yang kemudian bermigrasi menjadi embrio. Dengan demikian, setelah gastrulasi selesai dan setiap ekstra embrionik membrane terbentuk, tahap berikutnya adalah perkembangan embrio dimulai yaitu pembentukan organ. [4]
  





BAB III

PENUTUP


A.    KESIMPULAN

1.      Selaput embrio merupakan selaput pada bagian luar yang membungkus embrio agar berada persis pada posisi normal di dalam organ reproduksi betina yang berfungsi dalam perlindungan embrio.
2.      ada empat macam jenis-jenis selaput embrio pada embrio vertebrata tinggi, yaitu :
a.       amnion berfungsi untuk menyelubungi dan melindungi embrio dari tekanan fisik,
b.      kantung kuning telur berfungsi untuk nutrisi pada embrio,
c.       allantois berfungsi sebagai tempat penampung dan penympan urin dan sebagai organ pertukaran gas antar embrio dan lingkungan luarnya,
d.      karion berfungsi sebagai tempat pertukaran gas.
3.      terdapat empat macam plasenta pada hewan yaitu:
a.       plasenta difusa yaitu pada babi dan kuda,
b.      plasenta kotiledon pada hewan ternak,
c.       plasenta zonaria pada hewan karnivora,
d.      plasenta diskoidal pada primata dan rodensia.
4.      Mekanisme pembentukan selaput embrio
a.       mekanisme pembentukan selaput embrio pada ayam yaitu pada embrio awal, somatepleura dan splanknopleura meluas ke luar daerah tubuh embrio sampai ke atas yolk. mula-mula tubuh embrio ayam tidak mempunyai batas sehingga lapisan-lapisan embrio saling berkelanjutan. dengan terbentuknya tubuh embrio, secara berurutan dibentuk lipatan-lipatan sehingga tubuh embrio hampir terpisah dari kuning telur. dengan adanya lipatan-lipatan tubuh maka batas antara daeran intra dan ekstra embrio menjadi jelas.


b.      mekanisme pembentukan selaput embrio pada mamalia yaitu korion sebagai tempat pertukaran gas, dan cairan amnion melindungi perkembangan embrio, allantois termasuk sebagai tali pusat yang mengangkut oksigen dan nutrisi dari plasenta ke embrio dan melepaskan embrio CO2 dan limbah Nitrogen.
c.       yolk sac (kantung kuning telur) sebagai tempat dari awal pembentukan sel-sel darah.

B.     Saran

Pembahasan pada makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu saya mohon saran dari pembaca yang sifatnya membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya lebih baik lagi.





DAFTAR PUSTAKA


Asep Sufyan. 2011. Biologi Reproduksi. Bandung : Refika Adiatama.
Nawangsari Sugiri. 2011. Zoologi Umum. Jakarta : Erlangga.



[1] Nawangsari, Zoologi Umum, Jakarta : Erlangga, 2011, h.355.
[2] Ibid., h. 356.
[3] Asep Sufyan,  Biologi Reproduksi, Bandung : Refika Adiatama, 2011, h. 16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Mohon berikan komentar :)