Kelompok 9
MAKALAH
SELAPUT EMBRIO
Disusun
Oleh : Isnani Haryati
Disusun
untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Perkembangan Hewan
Dosen : Jumrodah, S.Si., M.Pd.
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu cirri makhluk hidup adalah bereproduksi (berkembang biak).
Reproduksi bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan atau
eksistensi suatu spesies tersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara umum
yaitu vegetative dan generative. Perkembangbiakan secara vegetative umumnya
terjadi pada tumbuhan dan hewan tingkat rendah. Sedangkan perkembangbiakan
secara generative umumnya terjadi pada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi.
Perkembangbiakan secara generative melibatkan individu jantan dan individu
betina. Individu jantan akan menghasilkan sel kelamin jantan atau sperma,
sedangkan individu betina akan menghasilkan sel kelamin betina atau sel telur
(ovum).
Seperti organisme lainnya, manusia berkembangbiaj secara seksual dan
pada saat tertentu akan membentuk sel-sel kelamin (gamet). Setelah sel telur di
dalam ovarium masak, dinding rahim menebal dan banyak mengandung pembuluh
darah. Pembuahan didahului oleh peristiwa ovulasi, yaitu lepasnya sel telur
yang masak dari ovarium. Jika sperma bertemu dengan ovum akan terjadi
pembuahan. Pembuahan terjadi di oviduk. Sel telur yang telah dibuahi akan
membentuk zigot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput, kemudian
menuju ke rahim. Di dalam rahim zigot menanamkan diri pada dinding rahim yang
telah menebal.
Selaput ini dikenal dengan nama selaput embrionik. Selaput terbentuk
selama perkembangan embrio dan bukan merupakan bagian dari tubuh embrio dan
letaknya di luar tubuh embrio. Memiliki fungsi sebagai media perantara
pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio, pemberi nutrisi, proteksi dan
sekresi.
Plasenta adalah organ embrio yang merupakan pertautan antara jaringan
embrio dan jaringan induk. Pada manusia, jaringan induk yang ikut serta dalam
pembentukan plasenta adalah endometrium uterus. Pembentukan plasenta pada manusia
dimulai pada minggu pertama kehamilan dan berkembang terus sampai kehamilan
berumur sekitar 8 bulan.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian selaput embrio?
2.
Apa saja
jenis-jenis dan fungsi dari selaput embrio?
3.
Apa saja
macam-macam plasenta pada hewan?
4.
Bagaimana mekanisme
pembentukan selaput embrio pada ayam dan mamalia?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian selaput embrio.
2.
Untuk
mengetahui dan memahami jenis-jenis dan fungsi dari selaput embrio.
3.
Untuk
mengetahui dan memahami macam-macam plasenta pada hewan.
4.
Untuk
mengetahui dan memahami mekanisme pembentukan selaput embrio pada ayam dan
mamalia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Selaput Embrio
Selaput embrio merupakan selaput pada bagian luar yang membungkus
embrio agar berada persis pada posisi normal di dalam organ reproduksi betina
yaitu tempat embrio berkembang, berfungsi sebagai perlindungan agar embrio
tidak terkontaminasi oleh antigen lain. Selaput embrio berfungsi sebagai media
perantara bagi pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio. Embrio dapat
bertahan hidup sendiri selama beberapa waktu dengan menyerap makanan dari
kantung kuning telur.
B. Jenis-jenis dan Fungsi Selaput Embrio
Ada empat macam selaput embrio yang umumnya terdapat pada embrio
vertebrata tingkat tinggi, yaitu sebagai berikut.
1. Amnion
Berasal dari bahasa Yunani, amnion yang berarti
membran fetus. Seperti kantung tipis yang berasal dari somaotopleura, membentuk
suatu kantung menyelubungi embrio dan berisi dengan cairan. Keberadaan selaput
ini sangat khas pada reptile, burung dan mamalia sehingga pada kelompok ini
sering disebut dengan kelompok amniota, sedangkan ikan dan amfibi tidak
mempunyai amnion dan disebut anamiota. Fungsi amnion antara lain sebagai alat
pernapasan, menyelubungi dan melindungi embrio dari tekanan fisik, dan tempat
mengambang, memungkinkan pergerakan tungkai dari tubuh embrio.[1]
2. Kantung kuning telur (yolk)
Kantung kuning telur sangat erat fungsinya dalam nutrisi
pada embrio dan kuning telur bekerja dalam waktu yang cukup singkat karena
fungsi kerjanya dalam pertumbuhan berikutnya akan dilanjutkan oleh allantois.
Mencegah embrio dari kekeringan, mengurangi resiko guncangan, dan menyerap putih
telur (pada ayam).
Mengangkut bahan makanan, gas, dan sisa metabolism lain.
Sebagai kantung urin embrional dan sebagai paruparu embrional. Kuning telur
dicerna oleh enzim yang dihasilkan kantung kuning telur dan hasil cernaan itu
dibawa ke embrio melalui pembuluh darah kantung kuning telur.[2]
3. Allantois
Allantois tumbuh dari saluran pencernaan belakang dan
terletak dibagian dalam dari korion seperti balon besar yang kempis. darah dari
embrio dialirkan ke luar masuk dalam allantois oleh pembuluh allantois. Fungsi
utamannya adalah sebagai tempat penampung dan penyimpan urin dan sebagai organ
pertukaran gas antar embrio dan lingkunga luarnya. Pada reptile dan burung,
allantois merupakan suatu sistem tertutup. Sehingga allantois harus memisahkan
sisa-sisa metabolisme nitrogen agar tidak menimbulkan efek toksik terhadap
embrio. Pada mamalia, peran allantois erat kaitannya dengan efisiensi
pertukaran yang berlangsung pada perbatasan fetus maternal.
4. Karion atau serosa
Berasal dari bahasa Yunani, chorion yang berarti kulit. Karion atau serosa adalah membran
embrio yang paling luar dan berbatasan dengan cangkang atau jaringan induk,
jadi merupakan tempat pertukaran antara embrio dan lingkungan sekitarnya. Pada
hewan-hewan ovipar, korion berfungsi sebagai pertukaran gas bagi respirasi.
Pada mamalia, korion tidak hanya berperan sebagai pembungkus dan respirasi saja
tetapi juga dalam nutrisi, ekskresi, filtrasi, dan sintesis hormon.
C. Macam-macam Plasenta pada Hewan
Plasenta adalah pertemuan antara pembuluh darah fetus dan maternal yang
berfungsi sebagai sirkulasi nutrisi dan gas. Perbedaan empat macam
plasenta dan masing-masing contoh hewannya, yaitu:
1. Plasenta difusa
Plasenta yang keadaan filinya menyebar merata diseluruh bagian korion
serta penembusan filinya ke dalam selaput lender rahim dangkal. Contoh babi dan
kuda.
2. Plasenta kotiledon
Filinya berkelompok-kelompok dan pertautannya lebih dalam pada selaput
lender rahim dan kotiledonnya menjulur ke dalam pori-pori selaput lendir rahim.
Contohnya hewan ternak.
3. Plasenta zonaria
Plasenta zonaria berbentuk ikat pinggang dan mengitari rahim di bagian
tengah korioalantoisnya. Contohnya pada hewan karnivora.
4. Plasenta diskoidal
Plasenta diskoidal berbentuk cakram dan jumlahnya bias satu atau lebih.[3]
D. Mekanisme Pembentukan Selaput Embrio pada Ayam dan Mamalia
1. Mekanisme Pembentukan Selaput Embrio pada Ayam
Pada
embrio awal, somatopleura meluas ke luar daerah tubuh embrio sampai ke atas
yolk. Daerah di luar dari tubuh embrio disebut ekstra embrio. Mula-mula tubuh
embrio ayam tidak mempunyai batas sehingga lapisan-lapisan ekstra embrio saling
berkelanjutan. Dengan terbentuknya tubuh embrio, secara berurutan dibentuk
lipatan-lipatan sehingga akhirnya tubuh embrio hampir terpisah dai yolk. Dengan
adanya lipatan-lipatan tubuh ini maka batas antara daerah intra embrio dan
ekstra embrio menjadi jelas.
Kantung yolk merupakan selaput ekstra embrio yang paling
awal dibentuk, splanknopleura embrio ayam tidak membentuk suatu saluran
tertutup tetapi tumbuh di atas permukaan yolk, dan mengelilinginya sehingga
membentuk suatu kantung. Splanknopleura yang mengelilingi yolk awalnya berasal
dari hipoblast primer dan sekunder. Kantung kuning telur meluas di atas
permukaan massa kuning telur. Sel-sel kantung kuning telur akan mencerna kuning
telur, dan pembuluh darah yang berkembang di dalam membran itu akan membawa
nutrient ke dalam embrio.
Lipatan lateral jaringan ekstra embrionik menjulur ke atas
bagian embrio dan menyatu untuk membentuk dua membran tambahan, yaitu amnion
dan korion, yang dipisahkan oleh perluasan ekstra embrionik selom. Amnion
membungkus embrio dalam kantung yang penuh cairan, yang melindungi embrio dari
kekeringan dan bersama-sama dengan korion menyediakan bantalan bagi embrio agar
terlindung dari setiap guncangan mekanis. Membran keempat yaitu allantois,
berasal dari pelipatan ke luar perut belakang embrio.
Allantois adalah kantung yang memanjang ke dalam selom
ekstra embrionik. Allantois berfungsi sebagai kantung pembuangan limbah
bernitrogen yang tidak larut dari embrio. Allantois dan korion membentuk organ
respirasi yang melayani embrio. Pembuluh darah yang terbentuk dalam epithelium
allantois mengangkut oksigen ke embrio ayam. Membran ekstra embrionik reptile
dan burung merupakan adaptasi yang berkaitan dengan permasalahn khusus
perkembangan di darat.
2. Mekanisme pembentukan selaput embrio pada Mamalia
Pada umumnya membrane ekstra embrionik mempunyai fungsi yang sama pada
mamalia dan reptile. Korion merupakan tempat pertukaran gas, dan cairan dalam
amnion secara fisik melindungi perkembangan embrio. Merupakan cairan ketuban
dilepaskan dari vagina saat wanita hamil sebelum melahirkan. Allantois
menentukan limbah dalam telur reptile, sedangkan pada mamalia termasuk ke dalam
tali pusat. Tidak membentuk pembuluh darah yang mengangkut oksigen dan nutrisi
dari plasenta ke embrio dan melepaskan embrio karbon dioksida dan nitrogen
limbah. Yolk sac pada telur reptil
berfungsi untuk membungkus kuning telur. Sedangkan pada mamalia adalah tempat
dari awal pembentukan sel-sel darah yang kemudian bermigrasi menjadi embrio.
Dengan demikian, setelah gastrulasi selesai dan setiap ekstra embrionik
membrane terbentuk, tahap berikutnya adalah perkembangan embrio dimulai yaitu
pembentukan organ. [4]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.
Selaput
embrio merupakan selaput pada bagian luar yang membungkus embrio agar berada
persis pada posisi normal di dalam organ reproduksi betina yang berfungsi dalam
perlindungan embrio.
2.
ada empat macam
jenis-jenis selaput embrio pada embrio vertebrata tinggi, yaitu :
a.
amnion
berfungsi untuk menyelubungi dan melindungi embrio dari tekanan fisik,
b.
kantung
kuning telur berfungsi untuk nutrisi pada embrio,
c.
allantois
berfungsi sebagai tempat penampung dan penympan urin dan sebagai organ
pertukaran gas antar embrio dan lingkungan luarnya,
d.
karion
berfungsi sebagai tempat pertukaran gas.
3.
terdapat
empat macam plasenta pada hewan yaitu:
a.
plasenta
difusa yaitu pada babi dan kuda,
b.
plasenta
kotiledon pada hewan ternak,
c.
plasenta
zonaria pada hewan karnivora,
d.
plasenta
diskoidal pada primata dan rodensia.
4.
Mekanisme
pembentukan selaput embrio
a.
mekanisme
pembentukan selaput embrio pada ayam yaitu pada embrio awal, somatepleura dan
splanknopleura meluas ke luar daerah tubuh embrio sampai ke atas yolk.
mula-mula tubuh embrio ayam tidak mempunyai batas sehingga lapisan-lapisan
embrio saling berkelanjutan. dengan terbentuknya tubuh embrio, secara berurutan
dibentuk lipatan-lipatan sehingga tubuh embrio hampir terpisah dari kuning
telur. dengan adanya lipatan-lipatan tubuh maka batas antara daeran intra dan
ekstra embrio menjadi jelas.
b.
mekanisme
pembentukan selaput embrio pada mamalia yaitu korion sebagai tempat pertukaran
gas, dan cairan amnion melindungi perkembangan embrio, allantois termasuk
sebagai tali pusat yang mengangkut oksigen dan nutrisi dari plasenta ke embrio
dan melepaskan embrio CO2 dan limbah Nitrogen.
c.
yolk sac
(kantung kuning telur) sebagai tempat dari awal pembentukan sel-sel darah.
B. Saran
Pembahasan pada makalah ini sangat jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu saya mohon saran dari pembaca yang sifatnya
membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Asep Sufyan. 2011. Biologi
Reproduksi. Bandung : Refika Adiatama.
Nawangsari Sugiri.
2011. Zoologi Umum. Jakarta : Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Mohon berikan komentar :)