Kamis, 12 Maret 2015

Makalah Keimanan dan Keikhlasan



COVER

MAKALAH
KEIMANAN DAN KEIKHLASAN
Disusun Oleh
Isnani Haryati (1301140331)




Disusun untuk Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Hadis Tarbawi
Dosen : Akhmad Supriadi, S.HI., M.S.I






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
TAHUN 2015


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah Hadis Tarbawi ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para pembaca agar lebih memahami dan mengerti khususnya tentang Keimanan dan Keikhlasan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kekurangan. Oleh karena itu, Penulis memohon kritik dan saran yang membangun kepada pembaca sehingga dapat membantu memajukan serta kemampuan dalam penyusunan makalah. Atas perhatian Penulis mengucapkan terima kasih.



Penulis





BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Di antara perbendaharaan kata dalam agama ialah iman, islam, ihsan, dan hari kiamat. Berdasarkan sebuah hadits yang terkenal, keempat istilah itu memberi umat Islam ide tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup. Iman adalah sebuah pengakuan dalam hati, sikap percaya pada masing-masing rukun iman yang enam. Keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Sebagai manusia yang yang hidup,serta dalam menjalani kehidupan manusia itu sendiri tidak terlepas dari berbagai aspek yang menyelimuti dan mempengaruhi kehidupannya,seperti adanya penyakit hati yang tumbuh dalam diri dan jiwa seorang ummat bahkan seorang dai,kyai sekalipun .kita sebagai makhluk sosial terkadang  tanpa disadari penyakit hati seperti ini yang lebih dominan dalam kehidupan bermasyarakat.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana hubungan antara iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat?
2.      Apakah berkurangnya iman dan Islam di sebabkan karena maksiat?
3.      Apakah rasa malu sebagai bagian dari iman?
4.      Bagaimana niat atau motivasi dalam beramal?
5.      Bagaimana menjauhi riya dan sum’ah dalam beribadah?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Agar mengetahui dan memahami hubungan antara iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat.
2.      Agar mengetahui dan memahami bahwasannya iman dan Islam berkurang karena maksiat.

3.      Agar mengetahui dan memahami bahwa rasa malu adalah bagian dari iman.
4.      Agar mengetahui dan memahami cara bagaimana niat atau motivasi dalam beramal.
5.      Agar mengetahui dalam beribadah harus menjauhi riya dan sum’ah.

D.    Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan dan internet.



BAB II

PEMBAHASAN


A.    Hubungan Iman, Islam, Ihsan, dan hari Kiamat

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ } الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 48) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abu Hayyan At Taimi dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah berkata; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari muncul kepada para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril 'Alaihis Salam yang kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit". (Jibril 'Alaihis salam) berkata: "Apakah Islam itu?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadlan". (Jibril 'Alaihis salam) berkata: "Apakah ihsan itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu". (Jibril 'Alaihis

salam) berkata lagi: "Kapan terjadinya hari kiamat?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang

bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya; (yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah". Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca: "Sesungguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat" (QS. Luqman: 34). Setelah itu Jibril 'Alaihis salam pergi, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; "hadapkan dia ke sini." Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda; "Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka." Abu Abdullah berkata: "Semua hal yang diterangkan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dijadikan sebagai iman.[1]
JALUR SANAD
Rasulullah
Abu Hurairah
Abu Zur’ah
Abu Hayyan At-Taimi
Ismail bin Ibrahim
Musaddad
Bukhari



Hadist diatas membahas empat masalah pokok yang saling berkaitan, yaitu iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat. Pernyataan Nabi Muhammad SAW. di penghujung hadist di atas bahwa “itu adalah malaikat Jibril datang mengajarkan agama kepada manusia” mengisyaratkan bahwa keberagamaan seseorang baru dikatakan benar jika dibangun di atas pondasi Islam

disemangati oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar ihsan, dan orientasi akhir segala aktifitas adalah ukhrawi.[2]          
Seseorang yang hanya menganut Islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan iman. Sebaliknya, iman tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan Islam. Selanjutnya kebermaknaan iman dan Islam akan mencapai kesempurnaan apabila dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara iman, Islam dan ihsan dengan hari kiamat karena hari kiamat merupakan tujuan akhir dari segala perjalanan manusia tempat menerima ganjaran dari segala aktifitas manusia yang kepastian kedatangannya adalah rahasia Allah.

1.      Iman

 Iman adalah pengenalan dengan penuh keyakinan, atau ilmu pasti.[3] Sedangkan menurut Dr. Muhammad iman adalah kepercayaan terhadap wujud zat Yang Maha mutlak yang menjadi tujuan hidup manusia.[4] . Pengertian dasar dari istilah iman adalah memberi ketenangan hati, pembenaran hati. jadi makna iman secara umum mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati. Sedangkan pendapat para ulama  tentang pengertian iman adalah sebutan yang dipakai untuk ‘mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan.
Dengan demikian, iman saja tidaklah cukup tetapi harus disertai berbagai amal saleh sebagai perwujudan dari keyakinan tersebut. Sekedar kepercayaan menyangkut sesuatu, belum dapat dikatakana sebagai iman, karena iman menghasilkan ketenangan. Disamping itu iman dapat di ibaratkan sebagai makanan rohani. Jiwa yang kosong dari iman akan lemah dan hampa sebagaiman jasad yang tidak diberi makan. Dengan demikian iman merupakan inti kehidupan batin dan sekaligus menjadi penyelamat dari siksa abadi di akhirat kelak.
Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaanya dengan sesuatukepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. akidah tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisah lagi dari diri seorang mukmin. bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta bahkan jiwa demi mempertahankan akidahnya.[5]
Adapun pengertian iman secara khusus sebagaimana yang tertera dalam hadist di atas adalah : keyakinan tentang adanya Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab yang diturunkan-nya, Rasul-rasul utusan-Nya, dan yakin tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur serta beriman kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruk. [6]
Dalam al-Qur’an terdapat ayat yang senada dengan hadis di atas yang mendeskripsikan tentang konsep keimanan, antara lain firman Allah dalam Q.S al-baqarah : 285
z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u šøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ  
285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Keenam pokok keimanan itu yakni iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, iman kepada hari kiamat dan qadha dan qadhar dikenal sebagai arkanul iman (rukun iman). [7]

2.      Islam

Islam berasal dari akar kata kerja aslama secara harfiyah berarti kepatuhan atau tindakan penyerahan diri seseorang sepenuhnya kepada kehendak orang lain. Islam adalah keputusan menjalankan perintah Allah dengan segala keikhlasan dan kesungguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata islam, yakni penyerahan. Seorang muslim harus menyerahkan dirinya kepada Allah secara total karena memang manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
(BUKHARI - 7) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".[8]
Berdasarkan hadis di atas, dikemukakan tentang rumusan rukun Islam, yaitu:
Syahadat (persaksian keesaan Allah dan kerasulan Muhammad), mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji.
Seseorang yang menyandang predikat muslim, harus patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah, hidupnya serasi dengan alam dan seluruh makhluk, bahkan hidup serasi dengan diri sendiri. Dengan demikian, Islam telah  mengatur segala aspek kehidupan baik yang berkenaan dengan akidah (kepercayaan), syariah (ibadah dan muamalah), akhlak (baik kepada al-Khaliq maupun kepada makhluk).[9]

3.      Ihsan

Ihsan secara bahasa berasal dari akar kata kerja ahsana-yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk mashdarnya adalah ihsan yang artinya kebaikan.  Mengenai hal ini, Allah SWT. Berfirman dalam Q.S an-Nahl : 90
* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ    
90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Menurut Ibnu Hajar, ihsan berarti berusaha menjaga tata krama dan sopan santun dalam beramal. Ihsan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Karena orang yang berlaku ihsan dapat dipastikan akan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu ibadah.

4.      Hari Kiamat

Percaya akan datangnya hari kiamat termasuk salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh semua orang yang beriman meskipun tidak ada yang tahu kapan saatnya tiba. Bagi mereka yang beriman, misteri terjadinya hari kiamat tidak akan mengurangi kadar keimanannya. Mereka justru lebih waspada dan senantiasa meningkatkan amal kebaikan untuk bekal menghadapinya. [10]       

B.     Berkurangnya Iman dan Islam karena Maksiat

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيُّ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولَانِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
(MUSLIM - 86) : Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Imran at-Tujibi telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, saya mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa'id bin al-Musayyab keduanya berkata, Abu Hurairah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina, seorang mukmin tidak disebut sebagai mukmin saat ia mencuri. [11]

JALUR SANAD
Rasulullah
Abu Hurairah
Abu Salamah bin Abdurrahman
Sa’id bin al-Musayyab
Ibnu Syihab
Yunus
Ibnu Wahab
Harmalah bin Yahya bin
'Abdullah bin Imran at-Tujibi
Muslim

Penjelasan dari hadis riwayat Muslim tersebut adalah bahwasannya orang yang beriman akan merasa bahwa segala tingkah lakunya senantiasa diawasi oleh Allah SWT. dan tidak ada suatu perbuatan yang ia lakukan luput dari pengawasan Allah SWT. Di samping itu, ia selalu sadar bahwa segala perbuatan yang dilakukannya harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan ia sendiri yang akan menerima akibat dari perbuatannya, baik ataupun buruk, sekecil apapun perbuatan itu. Hal ini sesuai dalam QS. Az-Zalzalah : 7-8
`yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§sŒ #\øyz ¼çnttƒ ÇÐÈ   `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ    
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Atas dasar kesadaran tersebut, maka orang benar-benar beriman senantiasa berusaha mengerjakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Seorang yang beriman tidak mungkin dengan sengaja melakukan maksiat kepada Allahh, karena ia merasa malu dan takut menghadapi azab serta takut tidak mendapatkan ridha-Nya. Sebaliknya, seorang yang tidak beriman kepada Allah SWT. akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban apa-apa. Ia hidup semaunya, dan yang penting baginya adalah ia merasa senang dan bahagia. Ia tidak memikirkan kehidupan setelah mati karena ia tidak mempercayainya.[12]

C.    Rasa Malu Sebagai Bagian dari Iman

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 23) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.[13]
JALUR SANAD
Rasulullah
 
Abdullah bin Umar
Salim bin 'Abdullah
Bukhari

Rasa malu merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah kepada manusia dan sekaligus merupakan salah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatang. Kadar rasa malu pada tiap-tiap orang berbeda-beda dan motif yang menyebabkan orang malu juga sangat bervariatif. Dengan demikian, malu kadang dapat dikategorikan sebagai sifat yang baik, dan ada kalanya dapat dikategorikan sebagai sifat tercela. Malu termasuk dalam salah satu ciri orang yang beriman dan simbol keberimanan seseorang. Oleh sebab itulah sehingga Rasulullah dalam hadis di atas menjadikan rasa malu sebagai bagian dari iman.
Menurut Abu al-Qasim perasaan malu akan timbul apabila memandang budi kebaikan dan melihat kekurangan diri. Senada dengan itu, al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu adalah rasa takut untuk melaksanakan kejelekan. Diantara ulama ada pula yang berpendapat, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fathu al-Bary bahwa merasa malu dalam mengerjakan perbuatan haram adalah wajib, dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunnah, dan dalam mengerjakan perbuatan yang mubah adalah kebiasaan atau adat. Malu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Oleh sebab itu, jika manusia telah kehilangan rasa malunya, maka ia tidak ada lagi bedanya dengan binatang.[14]

D.    Niat atau Motivasi Beramal

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
 (BUKHARI - 1) : Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"[15]

JALUR SANAD
Rasulullah
Yahya bin Sa'id Al Anshari
Bukhari

Perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Hadis tersebut diucapkan oleh Rasulullah saw. sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabat yang terkait dengan motif keikutsertaannya dalam hijrah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sabab wurud hadis ini terkait dengan hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah besar sahabat ikut serta dengan Nabi saw. untuk berpindah (hijrah) ke Madinah. Di antara para sahabat yang ikut bersama Nabi saw., ada salah seorang di antara mereka yang ikut serta, tapi niat keikutsertaannya bukan motif menyelamatkan aqidah dan memperjuangkan dakwah Islam, tapi karena ia mengikuti seorang wanita pujaan yang akan dikawinianya yang kebetulan hijrah bersama Rasulullah saw. ke Madinah. Menurut riwayat, wanita tersebut bernama Ummu Qais. Pada awalnya, laki-laki tersebut tidak berniat hijrah bersama Rasulullah saw., tapi karena wanita pujaannya bertekat hijrah dan memutuskan siap dikawini di Madina. Atas dasar tersebut maka laki-laki itu ikut serta bersama rombongan muhajirin ke Madinah, meskipun motifnya lain, yaitu menikahi wanita pujaannya. Setelah sampai di Madinah, kasus tersebut ditanyakan kepada Nabi saw. apakah orang tersebut mendapatkan pahala hijrah sebagaimana pahala yang diperoleh oleh sahabat-sahabat lain. Maka Rasulullah saw. bersabda bahwa: amal seseorang dipahalai berdasarkan niat, sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang disebutkan di atas. Dengan memperbanyak amal shalih dan ketaatan, maka keyakinan akan bertambah dan keimanan akan semakin kuat. Sedangkan sedikit amal dan tenggelam dalam syahwat serta kemaksiatan akan melemahkan iman.[16]
Dalam kitab Riyadhush Shalihin dalam bab ikhlas Imam Nawawi berpendapat ”Ikhlas ialah seluruh ketaatan yang semata-mata ditunjukan karena Allah. Yakni ketaatan seseorang mukmin yang dinamakan taqarrub itu tertuju kepada Allah bukan dibuat-buat untuk manusia, untuk mendapatkan pujian manusia atau untuk supaya disayangi manusia, atau maksud apa saja selain taqarrub kepada Allah. [17]
Sesuai penjelasan di atas, maka perbuatan yang mendapatkan pahala hanyalah perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah SWT. Dengan demikian, meskipun sesuatu itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, tetapi perbuatan tersebut bertentangan dengan perintah Allah saw. atau melanggar aturan Allah swt., maka perbuatan tersebut sudah tentu tidak termasuk dalam kategori niat yang dikehendaki dalam hadis di atas. Jadi, inti niat yang benar adalah harus sesuai dengan perintah Allah SWT.

E.     Menjauhi Riya dan Sum’ah dalam Beribadah

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ جُنْدَبًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
(BUKHARI - 6018) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Kuhail. lewat jalur periwayatan lain, telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah mengatakan; aku mendengar Jundab menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, -dan aku tak mendengar seorang pun (selainnya) mengatakan dengan redaksi 'Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, maka aku dekati dia, dan kudengar dia menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; - "Barangsiapa yang beramal karena sum'ah, Allah akan menjadikannya dikenal sum'ah, sebaliknya barangsiapa yang beramal karena riya', Allah akan menjadikannya dikenal riya."[18]

JALUR SANAD

Rasulullah
 
Jundab
Salamah bin Kuhail
Musaddad
Bukhari

Riya berasal dari kata رَأَي    yang arti dasarnya adalah (melihat). Riya dalam bentuk mashdarnya berarti “tindakan memperlihatkan atau memamerkan” sesuatu. Riya dalam pengertian istilah syariat adalah melakukan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT. melainkan bertujuan untuk mendapat perhatian orang, baik untuk tujuan popularitas, mendapat pujian, atau motif-motif selain karena Allah swt.[19]
 Dalam terminologi syari’at, riya’ adalah melakukan taat dan meninggalkan maksiat tetapi dengan memperhatikan selain Allah SWT, atau menceritakannya, atau dia merasa suka amal tersebut dilihat orang lain demi tujuan-tujuan duniawi.
Orang yang beramal dengan maksud agar ia dikatakan sebagai orang yang dermawan, maka ia pun dimasukkan ke dalam neraka, karena tujuan ibadahnya itu hanyalah ingin memperoleh kemasyhuran. Maka memberinya kemasyhuran di dunia dan di akhirat tiada apa-apa lagi baginya kecuali neraka. [20]Allah berfirman dalam Q.S Al-Isra :18
 `¨B tb%x. ߃̍ムs's#Å_$yèø9$# $uZù=¤ftã ¼çms9 $ygŠÏù $tB âä!$t±nS `yJÏ9 ߃̍œR ¢OèO $oYù=yèy_ ¼çms9 tL©èygy_ $yg8n=óÁtƒ $YBqãBõtB #Yqãmô¨B ÇÊÑÈ     
18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.

Imam Ali r.a mengemukakan tiga cirri-ciri orang riya sebagai berikut, yaitu malas beramal kalau sendirian, semangat beramal kalau dilihat orang banyak, dan amalnya bertambah banyak kalau di puji oleh orang lain, dan berkurang kalau dicela orang lain. Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar al-Wasith  berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat penting. Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah beramal seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam melakukan amal-amal dengan ikhlas.
Menurut Ibnu Hajar al Astqalani, Sum’ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah  dan untuk memperoleh ridhonya,dan tercela jika ia membicarakan amalnya di hadapan manusia.[21]
Ciri-ciri orang  yang sum’ah yaitu : Giat beramal saat bersama orang lain atau mendapat pujian. Giat beramal dan melipatgandakan tenaganya jika mendapat pujian atau sanjungan, dan malas atau cenderung mengurangi amal jika mendapat celaan dan kecaman. Juga apabila sedang bersama-sama dengan orang lain cenderung menambah dan meningkatkan amal, sementara kalau sendirian dan jauh dari pantauan orang lain cenderung mengurangi amal.





BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Hubungan iman, Islam, ihsan dan hari kiamat yaitu Islam di atas pondasi dengan segala kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar ihsan, dan orientasi akhir segala aktifitas adalah akhirat.
2.      Berkurangnya iman dan Islam karena maksiat karena seorang manusia tidak sadar bahwa segala perbuatan yang dilakukannya harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan akan menerima akibat dari perbuatannya, baik ataupun buruk.
3.      Malu termasuk dalam salah satu ciri orang yang beriman dan simbol keberimanan seseorang karena merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah kepada manusia dan yang membedakan manusia dengan binatang.
4.      Niat atau motivasi dalam beramal adalah perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah SWT. dan tidak bertentangan dengan perintah Allah saw. atau melanggar aturan Allah SWT.
5.      Menjauhi riya dan sum’ah dalam beribadah sangat penting karena hal tersebut merupakan sifat yang tercela.

B.     Saran

Pembahasan tentang Keimanan dan Keikhlasan dalam makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya jika ada kesalahan dan kekurangan, kami mohon dibenarkan agar dapat membantu kami demi kemajuan dan keluasan ilmu pengetahuan terutama pengetahuan tentang Hadis Tarbawi.



DAFTAR PUSTAKA


Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalaniy al-Syafi’i. 1379 H.  Fath al-Bariy Juz I. Beirut: Daral-Ma’rifat.
Al-Ghazali, dkk. 2001.Menghidupkan Ajaran Rohani Islam, Jakarta : Lentera.
Bukhari, hadis no. 48, Bab  Hubungan Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat dalam Kitab 9 Imam CD kutub al-Tis’ah
Bukhari, hadis no.1 Bab Permulaan Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
Bukhari, hadis no.1 Bab Permulaan Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
Bukhari, hadis no.6018, Bab Riya dan Sum’ah, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.   
Husaini Majid Hasyim. 2003. Syarah Riyadhush Shalihin  Jilid I.  Surabaya:  Bina Ilmu.
Masjefuk Judbi. 2007. Studi Islam Jilid 1 Akidah. Bandung : Adiatama..
Muhammad Nu’aim. 2002. Iman (Rukun, Hakikat dan yang Membatalkannya). Bandung : Asyamil.
Muhammad. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi.  Bandung : Pustaka Media.
Muhammad Fuad Abdul Baqi. 2002. Al-Lu’lu’ wal Marjan. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Muslim, hadis no.86 Bab Penjelasan Bahwa Iman Berkurang Karena Kemaksiatan, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.




[1] Bukhari, hadis no. 48, Bab  Hubungan Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat dalam Kitab 9 Imam CD kutub al-Tis’ah.
[2] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wal Marjan, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2002, h.3
[3] Al-Ghazali, dkk., Menghidupkan Ajaran Rohani Islam, Jakarta : Lentera, 2001, h.36.
[4] Muhammad, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Grassindo, 2009, h. 58.
[5] Muhammad  Nu’aim, Iman (Rukun, Hakikat dan yang Membatalkannya, Bandung : Asyamil, 2002, h.171.
[6] Ibid., h.172.
[7] Muhammad,  Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, Bandung : Pustaka Media, 2009, h.13.
[8] Bukhari, hadis no.1 Bab Permulaan Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
[9] Prof.Drs h. Masjefuk Judbi, Studi Islam Jilid 1 Akidah, Bandung : Adiatama, 2007, h.8.
[10] Ibid., h.9
[11] Muslim, hadis no.86 Bab Penjelasan Bahwa Iman Berkurang Karena Kemaksiatan, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
[12] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalaniy al-Syafi’i, Fath al-Bariy, juz I, Beirut: Daral-Ma’rifat, 1379 H,  h. 48.
[13] Bukhari, hadis no.1 Bab Permulaan Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
[15] Bukhari, hadis no.1 Bab Permulaan Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.
[16] Muhammad Nu’aim Yasin, Iman (Rukun, Hakikat dan yang Membatalkannya), Bandung : Asyamil, 2002, h.175.
[17] Husaini Majid Hasyim , Syarah Riyadhush Shalihin  Jilid I, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1993, h.15-16.
[18] Bukhari, hadis no.6018, Bab Riya dan Sum’ah, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tis’ah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Mohon berikan komentar :)